Ini Solusi Ortu Atasi Anak yang Kecanduan Gadget

©

Transbogor.co - GADGET atau gawai dipersepsikan positif sebagai sebuah produk hasil temuan teknologi yang bisa mendekatkan segala informasi yang sifatnya verbal maupun non verbal. Gawai memungkinkan penggunanya mendapatkan informasi, data-data, atau referensi untuk menjawab permasalahan hidup yang mereka hadapi.

“Saya kira, dengan keberadaan gadget secara positif banyak memberi bantuan dalam kelancaran proses kerja dan sangat membantu dalam melakukan aktivitas di segala bidang. Untuk belajar, dulu mahasiswa harus ke perpustakaan selama berjam-jam untuk menelaah referensi. Sekarang ini, dengan penggunaan gadget, semua orang bisa mendapatkan informasi dengan sangat cepat,” kata Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof Dr Muh Jufri, SPsi MSi.

Keberadaan gadget memudahkan sisi kehidupan manusia sepanjang bisa dimanfaatkan sesuai peruntukannya. Dalam bidang bisnis misalnya, orang bisa memafaatkan sosial media untuk memperkenalkan produk. Transaksi perbankan pun bisa diselesaikan. Bagi setiap pribadi, gadget dapat melipatgandakan pendapatan atau benefit. Dengan catatan, gawai dimanfaatkan sesuai peruntukannya.

Namun, kekhawatiran muncul ketika seseorang dengan gampang bisa mendapatkan informasi yang bisa merugikan, membahayakan, dan menimbulkan masalah baru. Misalnya informasi hoaks. 

“Kadang-kadang orang tidak lagi menelaah benar tidaknya data, langsung dishare kepada orang lain. Informasi itu akhirnya memengaruhi opini publik, sehingga mengarah pada hal-hal yang kurang menguntungkan. Melalui gadget misalnya orang mencari informasi, tayangan, atau (maaf) video porno. Padahal, hal itu bisa berakibat buruk,” ujar Prof Jufri. 

Kedua, gadget bisa membuat anak-anak bisa mengalami ketergantungan. Sebab banyak hal menarik yang bisa didapatkan, misalnya bermain game online. Akhirnya, aktivitasnya anak tidak lepas dari gadget. Dengan banyaknya waktu yang dipakai bermain gadget, ia kurang berinteraksi dengan lain. 

Sebenarnya di dalam kelas, anak bisa bermain dengan teman. Namun, karena gadget ditangannya, ia tidak lagi peduli. Ia lebih menikmati game online. Seakan-akan orang lain tidak penting. Dampaknya, anak akan cenderung individual. Nantinya bisa mengarah pada asosial. 

“Ia akan menyapa orang lain jika tidak ada urusan lagi dengan gadget, misalnya sebab kehabisan kuota internet maupun daya baterai yang melemah. Padahal perkembangan anak membutuhkan interaksi dengan orang lain. Anak butuh bermain bersama dengan orang lain untuk membangun jiwa kooperatif dan mau bekerja dalam kelompok,” sebutnya. 

Memang disatu sisi, tayangan game atau video, secara positif bisa mendorong daya imaginasi anak. Anak bisa mencipta kreativitas dan mengasah kemampuan berpikir sebab banyaknya informasi yang ada di kepala anak. Namun, permasalahan terjadi pada anak-anak yang belum memiliki kemampuan menelaah secara kritis terhadap apa yang ia tonton. Sebagai contoh, game yang sarat kekerasan.

“Karena seringnya menonton seperti itu, anak lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang baik bagi dirinya. Ini berbahaya kalau dibiarkan terus menerus. Bibit kekerasan dalam dirinya mulai berkembang. Gaya bicara anak mulai tidak sopan. Ia menghardik dengan kata-kata kasar,” tegasnya. 

Ada orang tua yang menggunakan gadget sebagai alat agar anak betah di dalam rumah. Pandangan orang tua, gadget bisa membuat anak tidak banyak tuntutan. Cukup dibelikan gadget saja. Menurut saya, hal itu tindakan yang kurang bijak. Ini sama halnya memanjakan anak. Karena sibuk bermain gadget, anak tidak keluar rumah. Hal ini memperlambat proses pertumbuhan sosial anak. Kemampuan beradaptasinya akan berkurang.

Solusi 

Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua sekaitan dengan penggunaan gadget oleh anak-anak mereka. Orang tua harus mendampingi anak dalam menggunakan fasilitas tersebut. Orang tua harus mencermati apa yang sering dibuka oleh anak. Jangan-jangan ada sesuatu yang anak sembunyikan. Sebenarnya menyenangkan bagi anak, tetapi sebenarnya merusak. Jika informasi itu berbahaya bagi perkembangan anak, maka orang tua harus tegas.

“Suami dan istri haruslah kompak. Orang tua harus berdiskusi, lalu kompak memberi teguran. Alihkan perhatian anak pada objek yang lain. Salah satunya tidak boleh melarang dan yang lain hanya membiarkan,” jelasnya. 

Kalau orang tua sudah mengantar anak ke sekolah, maka selanjutnya tanggungjawab ada pada guru. Saya setuju bila siswa tidak diperkenankan menggunakan handhone selama jam sekolah. Ini salah satu sikap yang diambil sekolah agar anak bisa fokus pada pelajaran. Kalau ada penugasan, dicari saat jam pelajaran selesai. (kmp) 
 

Back to Top