Ridwan Kamil “Tuding” Presiden Joko Widodo Gagal Urus Citarum?

Oleh :Adi
Ridwan Kamil “Tuding” Presiden Joko Widodo Gagal Urus Citarum?

Transbogor.co – Pernyataan Gubernur Ridwan Kamil bahwa Program Citarum Harum akibat kegagalan kepemimpinan sehingga elemennya tidak kompak memunculkan kontroversi. Bahkan pernyataan tersebut dinilai juga “menuding” Presiden Joko Widodo gagal membenahi Citarum.

Seperti diketahui Tim DAS Citarum sebagaimana dimaksud pada ayat 1  berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

"Maka dalam hal ini, terkait dengan pernyataan Ridwan Kamil yang mengatakan kegagalan Program Citarum,maka itu adalah juga sebuah kegagalan dari Presiden RI Joko Widodo," demikian disampaikan Ketua Dewan Pengawas Yayasan Citarum Harum, Profesor Dini Dewi Heniarti, Senin 1 Desember 2019, seperti dilansir Harian Pikiran Rakyat.

Sebelumnya, tanggal 30 Desember 2018 Pikiran Rakyat memuat berita pernyataan berjudul "Citarum Harum Belum Kompak".

"Penyataan Emil selaku Gubernur Jawa Barat sangat tidak bijak dan sangat disayangkan, karena pernyataan itu sangat mengusik perasaan pegiat lingkungan yang terdiri dari berbagai elemen. Bahkan bisa menimbulkan kegoncangan kosmik," ujar Dini.

Dini juga menjelaskan kata kegagalan Program Citarum adalah sebuah diksi yang sangat feyoratif dalam konteks sekarang.

Hal ini dikarenakan banyak masyarakat yang berdharma bhakti untuk memberi konstribusi kepada permasalahan Citarum.

 "Indikator apa yang telah digunakan sehingga rasanya terlalu prematur untuk menghakimi Program Citarum 'gagal'," ucapnya.

Secara normatif (de jure) pun lanjut Dini, Program Citarum Harum baru dimulai pada bulan Maret 2018.

"Jadi baru berjalan 9 bulan saja, meski secara de facto sudah dimulai pada bulan November 2017 lalu. Pada saat itu program ini digagas oleh Letnan Jenderal Doni Monardo saat masih menjabat Pangdam III/Siliwangi. Konsepnya pada saat itu adalah 'Satu Kesatuan Komando'," ucapnya.

Konsep ini kata Dini adalah untuk menyempurnakan program Citarum sebelumnya yang telah digagas oleh para pemegang kebijakan terdahulu.

Bahkan meski kurang dari setahun banyak sekali program yang telah dikerjakan untuk Program Citarum Harum.

"Banyak programnya baik dari sisi pembenahan struktur hukum maupun budaya hukum. Bahkan diperkuat juga dengan Perpres tentang Percepatan Pengendalian dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Perpres ini untuk memayungi program tersebut, dan sudah ditetapkan pada 14 Maret 2018 lalu," katanya.

Pada perpres tersebut kata Dini dinyatakan sebagai berikut ;Untuk penanggulangan pencemaran dan kerusakan DAS Citarum perlu diambil langkah-langkah percepatan dan strategis secara terpadu untuk pengendalian dan penegakan hukum, yang mengintegrasikan kewenangan antar lembaga pemerintah dan pemangku kepentingan terkait guna pemulihan DAS Citarum;.

Selain itu pada pasal 3 ayat 1 disebutkan bahwa ;Tim DAS Citarum bertugas mempercepat pelaksanaan dan keberlanjutan kebijakan pengendalian DAS Citarum melalui operasi  pencegahan, penanggulangan pencemaran dan kerusakan, serta pemulihan DAS Citarum secara sinergis dan berkelanjutan dengan mengintegrasikan program dan kegiatan pada masing- masing kementerian/lembaga dan pemerintah daerah termasuk optimalisasi personel dan peralatan operasi;.

Tim DAS Citarum ini lanjut Dini sebagaimana dimaksud pada ayat 1 itu berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Oleh karena Tim Das Citarum harus bertanggung jawab kepada Presiden.

"Maka dalam hal ini, terkait dengan pernyataan Ridwan Kamil yang mengatakan kegagalan Program Citarum maka itu adalah juga sebuah kegagalan dari Presiden RI Joko Widodo," ucapnya.

Sebagai informasi Tim DAS Citarum ini terdiri berbagai elemen. Di antaranya pengarah dan satgas. Ketua Satgas adalah Menko Kemaritiman yaitu Luhut Binsar Pandjaitan.

Lalu Wakil Ketua I adalah Menko Polhukam Wiranto. Wakil Ketua II adalah Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution, dan Wakil Ketua III adalah Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Sementara anggota Tim DAS Citarum ini terdiri dari beberapa mentri lainnya termasuk juga pejabat setingkat menteri.

Semisal Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto dan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo.

Pengarah ini lanjut Dini nantinya bertugas menetapkan kebijakan pengendalian, pencemaran dan kerusakan DAS Citarum.

Tentunya secara terintegrasi dan berkelanjutan, selain itu juga bertugas memberikan arahan dalam pelaksanaan tugas satgas.

Sementara dalam pelaksanaan tugasnya, pengarah dibantu sekretariat  yang secara fungsional dilakukan oleh salah satu unit kerja.

Unit kerja ini berada di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

"Secara kultural telah terjadi perubahan mindset masyarakat baik di hulu, tengah maupun hilir. Salah satu indikatornya sudah ada program yang terintegrasi dari Kemenristekdikti. Bahkan pada program ini Kemenristekdikti telah mengucurkan dana hibah KKN tematik untuk Program Citarum Harum," ucapnya.

Selain itu pula telah banyak perguruan tinggi yang ikut berkontribusi dalam Program Citarum harum. Ada pula para pegiat lingkungan baik secara sendiri-sendiri, maupun secara kelembagaan telah mencurahkan perhatiannya pada Citarum.

"Masyarakat sipil maupun TNI yang selama 24 jam tidur bersama masyarakat telah berjuang membenahi Citarum Harum. Sementara kemarin-kemarin Permenko, Sekretariat Satgas saja belum terbentuk, masyarakat atas panggilan hatinya telah berdharma bhakti kepada Citarum," ucapnya.

Kata kegagalan kata Dini mengandung makna perihal gagal atau ketidakberhasilan. Kata kegagalan itu menohok banyak pihak yang  telah berjibaku di Citarum, merajah sampai ke nadi dan tulang sumsum. "Pemilihan diksi seorang pejabat publik seyogyanya harus menentramkan semua pihak," ucapnya.

Apalagi pernyataan ini dilanjutkan dengan masalah kepemimpinan sehingga tidak kompak.

"Siapa yang disebut, pemimpin tertingginya adalah Presiden diikuti berbagai mentri koordinator. Lalu siapa yang tidak kompak ini, karena mereka semua ini berada dalam satu lingkaran. Akan banyak saling tuduh menuduh siapa penyebab kegagalan Program Citarum Harum ini," ucapnya.

Padahal penghijauan pun dan program-program lainnya sudah dilaksanakan.

"Di manakah letak gagalnya ada 564 hektare lahan telah ditanam pohon, bahkan jumlah pohonnya sudah ratusan ribu. Tepatnya ada 869.184 pohon padahal baru dilakukan selama 9 bulan," katanya.

OIeh karena itu kata Dini sebaik-baik pemimpin adalah yang menggunakan diksi yang membawa optimisme. Selain perlu juga ada unsur inspirasi, harapan, dan kegembiraan bagi rakyat yang dipimpinnya.

"Pemakai bahasa memang perlu juga memperhatikan nilai rasa atau konotasi sebuah kata. Tautan pikiran yang menerbitkan nilai rasa. Menghargai hasil karya orang lain artinya menghormati hasil usaha, ciptaan, dan pemikiran orang lain," ujarnya.

(adi/pr)