Dari Chef, Ian Buat Pabrik "Safety Chef Shoes"

Oleh :
Dari Chef, Ian Buat Pabrik

Ian Ardiansyah : “Saya ingin chef-chef Indonesia bisa menggunakan  safety chef  shoes dengan harga terjangkau.”


Transbogor.co - Setelah lama bekerja sebagai seorang chef (koki) di sebuah kapal pesiar, Ian Ardiansyah mencoba peruntungan baru dengan ‘banting stir’ menjadi pengusaha sepatu. Sepatu buatannya, sudah banyak dipesan oleh beberapa perusahaan baik dari dalam dan luar negeri seperti Kalimantan, Makassar, Manado, Bandung, Bali, Padang, Bahrain, Thailand, Mekkah, Dubai dan Abu Dhabi.

Dijumpai Transbogor.co, di pabriknya di daerah Cibinong, Ian menceritakan alasan ia banting stir menjadi pengusaha sepatu. Bisnis baru ini sepenuhnya berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai seorang chef lebih dari 20 tahun lamanya di hotel berbintang dalam dan luar negeri.

“Hanya chef-chef yang pernah bekerja di luar negeri yang menggunakan chef shoes khusus. Selebihnya, mereka hanya menggunakan chef shoes  yang sifatnya umum yang biasa digunakan oleh pekerja pabrik, proyek pembangunan gedung atau bengkel,” kata Ian. 

“Saya ingin chef-chef Indonesia bisa menggunakan  safety chef  shoes dengan harga terjangkau,” imbuhnya.

Harga jual  chef shoes buatannya termasuk murah dibandingkan harga  chef shoes dari luar negeri. “Kalau dari luar harganya berkisar empat jutaan sepasang. Chef shoes buatan saya hanya empat ratus ribuan sepasang,” ujar lulusan perbankan dan salah satu sekolah tinggi pariwisata jurusan Tata Boga tahun 1996 ini.

Chef shoes yang bagus, kata Ian tidak berat. Rata-rata memiliki berat sekitar 1470 gram (sepasang dengan ukuran yang sama). Berat tersebut baginya masih ia anggap terlalu berat dan keras. Dengan nomor yang sama, Ian mengaku bisa membuat sepatu khusus chef dengan berat hampir setengahnya (820 gram).

Berdasarkan pengalaman pribadi sebagai seorang chef, profesi chef banyak berdiri dan bergerak dinamis. “Chef shoes yang saya ciptakan ini saya buat seringan, senyaman, dan sesimpel mungkin,” kata Ian yang pernah bekerja di Hotel Shangrilla, Ritz Carlton, Grand Hyatt Jakarta dan beberapa Hotel dan Resto berbintang dalam dan luar negri ini.

Kelebihan chef safety shoes produknya, adanya plat besi ( Toe Cap ) dibagian depannya. Tujuannya kata Ian, jika ada kejadian yang tidak diinginkan seperti tertimpa peralatan kitchen, kaki terlindungi. “Kekuatan untuk menahan beban hampir dua ton,” tandasnya.

Untuk konsep desain sepatu, semua ia desain sendiri dengan tidak terlalu banyak motif maupun jahitan. “Sepatu saya buat sesimpel dan seringkas mungkin tanpa tali sepatu,” paparnya.

Dengan mempekerjakan sekitar 12 pekerja, pabriknya yang berlokasi di daerah Cibinong mampu memproduksi sekitar 150 pasang sepatu setiap harinya. Ada sekitar empat tipe yang sudah ia keluarkan yaitu tipe Michelin Star, Predator, Angel Chef dan Rockchef.

Hampir semua sepatu produksinya menggunakan bahan dari kulit asli dengan sol karet yang anti slip. Namun untuk model-model kuno, sepatu menggunakan sol dari kayu.

“Sepatu yang saya ciptakan ini Oil Ressistant,slip resistance, anti bacteria, full Genuine leather, foot wellness dan sangat fashionable,” kata pria kelahiran Bogor, 10 Nopember 1977.

Sejauh ini, kata Ian, mereka yang sudah memesan sepatu buatannya merasa puas. Selama ini belum ada complain karena sepatunya rusak. Kalau pun ada, katanya, ia akan mengganti  dengan sepatu yang baru. Untuk saat ini, belum ada produk sejenis baik dari dalam dan luar negeri yang memberikan garansi.

Menariknya, sepatu yang dibuatnya bisa dipasang logo company sebab dicetak secara embossed yang tidak bisa hilang. Hal ini dianggap sangat menguntungkan company, sebab sepatu yang diberikan ke karyawan telah menjadi property dari company tersebut.

“Karyawan tidak bisa mengklaimnya bahwa sepatunya milik pribadi karena ada logonya yang tidak bisa hilang. Jika karyawannya resign, sepatu ini bisa digunakan kembali untuk karyawan lainnya seperti karyawan part timer,” tegasnya.


 

Penulis : Dimas Fery

Editor : Arifin Al Jawi