Gunung Sinabung Masih Memuntahkan “Amarah”

Oleh : on
Gunung Sinabung Masih Memuntahkan “Amarah”
Medan, Trans Bogor

Hingga Minggu kemarin (2/2), Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara masih memperlihatkan amarah. Sempat reda, namun tiba-tiba mengamuk lagi. Sejak aktif pada 15 September 2013 lalu,  Gunung Sinabung mengamuk dan meluluhlantakan seluruh isi alam di sekitar pegunungan. Puncaknya, 1 Februari 2014 Sinabung memuntahkan awan panas setinggi dua kilometer dan menewaskan 11 orang.

Karo - Basarnas, TNI AD, PMI, dan Polri belum bisa melanjutkan upaya pencarian terhadap kemungkinan adanya korban tewas akibat awan panas. Sebab kondisi gunung masih mengeluarkan awan panas.

Kasi Ops Basarnas Medan Joni Superiadi menjelaskan, sesuai dari informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tim belum diperbolehkan melakukan pencarian atau evakuasi ke Desa Suka Meriah, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo.

Hingga pukul 10.00 WIB, kemarin sekitar 70 orang petugas masih tertahan di Desa Guru Kinayan. Jarak desa ini sekitar 3 km dari puncak Sinabung.

“Kita belum diperbolehkan masuk karena gunung masih ada erupsi dan luncuran awan panas,” ujar Joni Superiadi Minggu.

Kasubid Pengamatan dan Penyelidikan Pusat Vulkanologi Wilayah Timur, Kristianto, menjelaskan pantauan mereka meski erupsi mulai menurun, kegempaan masih terjadi rata-rata masih 100 kali.

“Selain gempa tremor, semburan awan panas masih mungkin terjadi. Karena kubah lava. Masih ada di atas gunung,” ucap Kristianto.

Urung Pulang

Sempat mereda, sekitar 13 ribuan pengungsi Sinabung, Karo, Sumatera Utara, hendak balik ke desa dan menggelar syukuran. Tapi rencana tersebut gagal karena gunung kembali meletus sehingga pengungsi takut pulang.

“Padahal pengungsi sudah gelar syukuran karena mau balik ke desa mereka. Kami juga sudah menyiapkan truk pula,” ujar Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (1/2) lalu.

Syukuran itu, kata Sutopo, digelar sebagai perayaan karena akhirnya mereka bisa kembali ke desa mereka. Namun, gunung yang meletus kembali mengacaukan rencana.

“Tapi ada beberapa yang tetap balik karena desa mereka di luar radius 5 km, tergolong aman. Ya, kami tidak bisa melarang,”ujar Sutopo menambahkan.

Hingga saat ini belum diketahui berapa jumlah pengungsi yang memutuskan untuk tetap kembali ke desa, dan berapa yang bertahan. Adapun korban erupsi Sinabung yang meninggal hari ini bukan berasal dari desa yang tergolong aman dari erupsi.

Presiden Sedih

Sementara itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampai­kan rasa sedih dan prihatin atas korban ji­wa akibat awan panas erupsi Sinabung dan telah memerintahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional untuk mengambil langkah tepat mencegah terulangnya kejadian serupa.

“Saya sedih, karena sudah saya ingatkan untuk tetap di penampungan bersabar dan jangan kembali ke desa jika belum aman,” kata Presiden dalam akun twitter pribadinya @SBYudhoyono di Jakarta, Minggu.

Kepala Negara menga­takan te­lah meminta Kepala BNPB Syamsul Maarif untuk mengambil langkah cepat dan tepat untuk pastikan dapat cegah musibah seperti ini.

“Bagi rakyat, patuhi petugas, hindari zona bahaya. Erupsi bisa terjadi setiap waktu. Selalu waspada dan antisipasi kemungkinan terburuk,” kata Presiden.

“Mari tundukkan kepala bagi 14 korban tewas awan panas gunung Sinabung. Dari Tuhan kita berasal, kepada-Nya lah kita kembali,” kata Presiden.

Data yang diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat 14 tewas dan tiga orang mengalami luka bakar akibat awan panas erupsi Gunung Sinabung.

Ke-14 korban tewas, yakni Alexander Sembiring, Daud Surbakti, Dipa Nusantara, dan David yang merupakan pelajar, kemudian Mahal Sembiring guru honorer SD di Desa Gurukinayan, Teken Sembiring serta Santun Siregar (mahasiswa).

Kemudian, Fitriani Boru Napitu­pulu, Asran Lubis, dan Marudut Barisan Sihite (mahasiswa), Rizal Sahputra (wartawan Jurnal Sumut), Daniel Siagian (mahasiswa), Julpiandi Mori (mahasiswa), dan Tomas Lakae.

Sedangkan korban luka-luka akibat awan panas ada tiga orang, yakni Sehat Sembiring (48) dan anaknya Surya Sembiring (21) warga Kabanjahe yang akan ziarah ke Desa Sukameriah atau di posisi 2,7 km dari kawah Gunung Sinabung.

Satu lagi Doni Milala (60) warga Desa Sukameriah yang sedang melihat kondisi rumahnya yang sudah lama ditinggal mengungsi. Seluruh korban yang tewas dan luka-luka tersebut terkena semburan awan panas di Desa Sukameriah yang berada pada radius 3 km dari Gunung Sinabung. (adh/ant/dtc/tem)