Aksi Demo 411, IPW: Jokowi Jangan Pakai Gaya Orde Baru

  
NETA S. PANE

Transbogor.co- Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S. Pane meminta, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) jangan memakai gaya-gaya orde baru yang doyan main tuding tanpa bukti, bahwa ada provokator di balik aksi demo 411.

“Jika pemerintah Jokowi memang sudah punya data, tangkap, dan proses secara hokum provokator tersebut. Jangan sekadar menyebar isu untuk mengalihkan persoalan sesungguhnya, yang bertujuan untuk melindungi Ahok yang sudah dilaporkan ke Mabes Polri sebagai penista agama,” papar Neta dalam siaran pers yang diterima, Minggu (6/11/2016).

Neta menyayangkan cara-cara yang dilakukan Presiden Jokowi dalam menghadapi aksi demo 411. Ada dua kesalahan fatal yang dilakukan Jokowi. Pertama, tidak mau menerima delegasi demonstran, padahal selama ini Jokowi doyan blusukan menemui rakyat.

Kedua, begitu tiba di Istana pada tengah malam, Jokowi ujug-ujug melontarkan isu adanya provokator di balik aksi demo 411. Padahal, aksi demo 411 cukup damai.

“Jika terjadi benturan adalah sangat wajar, mengingat jumlah massa yang hadir hampir sejuta orang. Tentu tak mudah mengendalikannya. Sebab itu, IPW memberi apresiasi pada TNI-Polri yang sudah cukup sabar mengamankan para demontran,” tukasnya.

Dari pantauan IPW di lapangan, benturan terjadi saat massa mahasiswa hendak membubarkan diri. Setelah dari Jalan Majapahit, massa bergerak menuju Jalan MH. Thamrin melalui Jalan Medan Merdeka Barat.

Sementara, di jalanan masih banyak massa yang bertahan menunggu Jokowi. Desak-desakan terjadi. Muncul ketegangan dengan polisi. Sejumlah massa ormas keagamaan langsung masuk ke tengah hendak memisahkan ketegangan antara polisi dan mahasiswa. Tapi, situasi kian panas, pukul-pukulan terjadi.

Polisi menggunakan tameng dan mahasiswa menggunakan tiang bendera. Saat itulah beberapa massa membakar sampah, dan tembakan gas air mata pun dilontarkan polisi untuk membubarkan massa.

Saat mendengar kericuhan terjadi di depan Istana, demonstran yang hendak pulang dan sudah tiba di Penjaringan langsung mengamuk. Mereka melempari polisi dan dihalau dengan gas air mata. “Sikap spontan ini merupakan hal wajar, apalagi begitu banyak jumlah massa. Terbukti, amuk massa cepat mereda,” kata Neta.

Jika ada provokator yang bermain, sejak siang tentu sudah terjadi benturan hebat mengingat banyaknya massa. “Jadi tudingan adanya provokator yang dilontarkan Jokowi sangat tidak mendasar,” tegasnya.

Menurut Neta, tudingan itu hanya ingin merusak cara-cara damai yang sudah ditunjukkan para ustadz, habib dan ulama yang memimpin aksi itu. Tudingan ini hanya ingin mengalihkan kasus Ahok yang akan diperiksa, Senin (7/11/2016).

IPW sangat menyayangkan kenapa Presiden terpedaya dengan isu murahan yang disampaikan para pembisiknya yang mereka belum tentu ada di lapangan.

“Jika memang ada provokatornya, Jokowi jangan hanya main lempar isu seperti Orba, tapi langsung tangkap dan proses secara hukum,” ujar Neta.

IPW memberi apresiasi pada kerja keras para ustadz, habib dan ulama yang sudah mengawal aksi damai 411. Kalaupun terjadi benturan kecil di akhir demo adalah hal wajar. IPW juga merasa salut pada sikap sabar yang sudah ditampilkan TNI-Polri dalam menjaga aksi demo.

“Melihat semua kerja keras ini, IPW berharap Presiden Jokowi jangan meniru-niru gaya Orba yang bermain-main dengan isu provokator, yang bisa membuat anti pati masyarakat maupun aparatur keamanan,” tandasnya.

 

Reporter: Sabastian

Editor      : Arief Pramana

.