Satu Keluarga Jemaat Ahmadiyah Bertobat Masuk Islam Lagi

  Ā©
MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SYAHADAT- Siska Ariani bersama dua anaknya didampingi kuasa hukum (pengacara)-nya ketika mengucapkan dua kalimat syahadat, di Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Rabu (30/11/2016). [ISTIMEWA)

Transbogor.co- Hidayah datang menghampiri keluarga, Siska Ariani (35) warga Kampung Parakansalak, Desa./Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi.

Dia bersama suaminya, Irwan Nopiandri (32) dan dua anaknya, Fatir dan Syahnawaz (6) mengucapkan dua kalimat syahadat di depan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Rabu (30/11/2016).

Mereka datang ke Sekretariat MUI Kota Sukabumi didampingi penasehat hukumnya, HM. A. Dunuraeni, SH atau yang kerap didapa Daniel. Siska dan dua anaknya mengucapkan kalimat syahadat dengan isak tangis di ruang Ketua MUI.

Sedangkan suaminya mengucapkan kalimat syahadat di dalam kendaraan, lantaran alasan kesehatan. Irwan mengalami cidera akibat tabrak lari ketika dalam perjalanan ke kantornya, di bilangan Jakarta.

Siska terlahir dari keluarga penganut ajaran Ahmadiyah secara turun temurun. Ia memiliki tiga anak, tapi yang bungsu berusia 2 tahun tidak disertakan, karena alasan tertentu.

Keputusannya mengucapkan syahadat atas dasar keinginan sendiri, tanpa ada paksaan lain. Bahkan, keinginannya tersebut telah terbetik sejak lama. Sedangkan suaminya,  masuk menjadi anggota Jamaah Ahmadiyah sejak 12 tahun, ketika keduanya belum menikah.

“Sudah lama saya merasa ajaran yang saya terima tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tapi saya selalu pendam karena takut. Baru beberapa hari lalu saya bertekad untuk meninggalkan Ajaran Ahmadiyah. Saya minta bantuan dengan Pak Daniel yang membantu kami untuk dipertemukan dengan MUI kota Sukabumi,” katanya.

Dia mengungkapkan, salah satu yang tidak bisa diterimanya dalam Ajaran Ahmadiyah menghalalkan riba. Anggota Jemaah Ahmadiyah memberlakukan riba dengan bunga hingga 100 persen. Padahal sepengetahuannya diharamkan dalam Islam.

Lantaran kebutuhan, dia meminjam uang kepada seorang rentenir yang juga pengurus komunitas ibu-ibu anggota Ahmadiyah. Bahkan dia diancam akan dipenjarakan, jika tidak melunasi utang yang menjeratnya.

“Bunga sangat memberatkan, bahkan saya diancam mau dipenjarakan. Saya sudah pindah, karena selalu mendapat ancaman termasuk dari saudara saya yang lain,” jelasnya.

Bukan hanya keluarganya, orang tuanya juga telah menyatakan ingin meninggalkan ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tersebut. Bahkan, orang tuanya rela menjual rumah agar pindah dari kampung yang selama ini mereka tinggal. “Di kampung saya ada sekitar 200 pengikut ajaran Ahmadiyah,” ungkapnya.

Ketua I MUI Kota Sukabumi, HK. Apep Saepullah mengatakan, taubatnya keluarga Siska merupakan hidayah Allah SWT. Untuk itu, harus disambut dengan tangan terbuka.

Dia tidak ingin berpretensi negatif motif Siska mengucapkan syahadat. “Harus dinilai dari dhohirnya saja, jangan menghukum hatinya. Karena masalah hatinya hanya Allah SWT yang tau,” ucapnya.

Dikatakan, tugas berat selanjutnya adalah, pembinaan yang menjadi tugas umat Islam, di mana MUI sebagai pemukanya. Tapi di sisi lain, para muallaf tersebut juga harus ada proaktif ke pemuka agama di lingkungannya.

“Pembinaannya sebenarnya tanggung jawab semua umat Islan. Tapi, mengingat tugas MUI ada teritorial, maka kami bikin surat rekomendasi untuk memberitahukan ke MUI Kab. Sukabumi, bahwa yang bersangkutan telah masuk Islam, sehingga dilakukan pembinaan kepada mereka. Meski demikian, kami juga ikut melakukan pembinaan kalau mereka mau,” ujarnya.

Sementara, Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Dzikir Al Fath, Fajar Laksana yang juga Ketua IV MUI Kota Sukabumi menyatakan, siap mendidik dua anak tersebut jika orang tuanya ingin menyekolahkan di sekolah di bawah yayasan yang dipimpinnya.

“Kalau orang tuanya mau menitipkan pada kami, akan diberikan bea-siswa mulai dari SMP hingga perguruan tinggi. Di Ponpes kami banyak anak yatim dan dhuafa,” katanya.

Sementara itu, Daniel menyatakan, akan melapor balik rentenir yang disebutkan Siska tersebut. Sebab, perbuatan itu merupakan tindak pidana dan merugikan orang lain.

“Saya akan laporkan yang meminjamkan uang itu, karena perbuatan pidana,” kata anggota Komisi Hukum dan Hak Asasi Manusia MUI Kota Sukabumi tersebut.

 

Editor: Sabastian

.