Empat Karyawan PT. Cresyn Indonesia Dipecat Gara-gara Cekcok dengan WNA

  Ā©
BERJAGA-JAGA- Sebuah mobil dari Polsek Cileungsi sedang berjaga-jaga di depan pintu masuk perusahaan PT. CO, di Kp. Rawa Hingkik, Ds. Limusnunggal, Kec. Cileungsi, Kab. Bogor, saat karyawan pabrik aerophoen dan handphone melakukan aksi mogok kerja, Kamis (8/12/2016). [Anwar Mustopa | Transbogor.co]

Transbogor.co- Ratusan pekerja PT. Cresyn Indonesia (CO) yang berada, di Kampung Rawa Hingkik, Desa Limusnunggal, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, melakukan aksi mogok kerja, Kamis (8/12/2016).

Para buruh perusahaan yang bergerak di bidang manufactur tersebut mempertanyakan pemutusan hubungan kerja (PHK) keempat rekan mereka yang dilakukan pihak manejemen yang memproduksi aerophone dan handphone tersebut secara sepihak.

Endang, salah seorang karyawan menuturkan, mogok kerja tersebut terjadi lantaran empat orang pengurus yang tergabung dalam Serikat Pekerja Elektro Cresyn Indonesia (SPE-CI) Federasi Serikat Pekerja Aneka Sektor Indonesia (FSPASI) yang bekerja di PT. CO dipecat secara sepihak oleh perusahaan.

“Gara-gara kami mengikuti aksi buruh beberapa waktu lalu yang digelar di Pemkab (Pemerintahan Kabupaten) Bogor, di Cibinong, kami berempat di PHK sepihak oleh perusahaan,” katanya kepada Transbogor.co, Kamis (8/12/2016).

Menurut dia, saat mengikuti demo buruh tersebut, para pengurus sempat terlibat cekcok mulut dengan manajemen perusahaan, serta pimpinan perusahaan yang merupakan warga negara asing (WNA) dan berakhir dengan pemecatan sepihak.

Setelah itu, para karyawan mengajak pihak manajemen untuk duduk bareng menyelesaikan masalah tersebut, namun tak pernah ditanggapi. “Kami telah beritikad baik untuk mengajak duduk bareng, namun tak pernah ditanggapi,dan berakhir perselisihan,” ujarnya.

Senada, Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Cileungsi-Klapanunggal, Achamd Sodikin mengatakan, seharusnya pihak perusahaan tidak segampang itu dalam melakukan PHK, harus melalui mekanisme yang berlaku sesuai peraturan. “PHK itu harus diputuskan melalui PHI (pengadilan hubungan industrial),” tukasnya.

Ia menerangkan, dalam perusahaan tersebut terkesan dilarang para karyawan untuk berserikat. Hal ini menurut mereka, merupakan pemberangusan Serikat Pekerja (union busting) yang dilakukan oleh pengusaha dalam mengebiri hak-hak pekerja. “Tanggal 19 Desember nanti, kami akan menggelar aksi solidaritas di PT. CO,” tegasnya.

Sementara itu, saat awak media ingin mengkonfirmasi pihak manajemen, namun dihalang-halangi dan dilarang oleh Cecurity dengan alasan tidak diperbolehkan oleh bos. “Media tidak diizinkan oleh perusahaan untuk meliput demo ini,” singkat Sugianto, salah seorang Security.

Pantauan Transbogor.co, di lapangan menunjukkan, aksi mogok kerja tersebut dikawal oleh puluhan polisi dari Polsek Cileungsi. Mobil Polsek terlihat siaga di depan dan pintu masuk pabrik tersebut.

 

Reporter: Anwar Mustopa

Editor     : Sabastian

.