DPRD Kota Sukabumi Usulkan Perda Penghentian Aktivitas Waktu Shalat

  Ā©
Ilustrasi

Transbogor.co- Anggota DPRD Kota Sukabumi, H. Faisal Anwar Bagindo menyarankan kepada wali kota setempat agar mengeluarkan peraturan penghentian berbagai aktivitas saat memasuki waktu shalat.

Surat himbauan itu untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat, khususnya kaum pria yang ingin melaksanakan kewajibannya shalat lima waktu.

“Saya minta dikeluarkan aturan penggantian aktivitas setiap masuk waktu shalat lima waktu, terutama shalat jumat. Mengenai dalam bentuk apa, bisa surat himbauan atau Peraturan Walikota (Perwal),” ujar Faisal di gedung dewan, Selasa (27/12/2016).

Faisal mengaku prihatin melihat kondisi keberagamaan sebagian umat Islam yang masih mengabaikan kewajibannya dalam melaksanakan shalat wajib. Karena ketika memasuki waktu shalat, masih banyak yang berkeliaran, terutama ketika memasuki waktu shalat jumat.

“Ketika bedug sholat, masih ada yang kerja atau kegiatan lain. Waktu shalat jumat, anak sekolah yang muslim masih berkeliaran,” jelasnya.

Selain itu,dia juga menerima laporan masih banyak karyawan toko yang beragama Islam masih menjalankan aktivitasnya, sedangkan shalat Jumat sudah berlangsung. Sebagai umat Islam wajib menjalankan ibadah shalat setiap waktu.

“Shalat itu memang urusan umat muslim dengan Allah. Tapi, setidaknya kita bisa menyerukan agar mereka lebih mengingat atas kewajibannya sebagai umat Islam,” ujar Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Menurut dia, usulannya tersebut selain bentuk kepedulian terhadap umat Islam, juga sejalan dengan visi-misi Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi yang rahmatan lilalamin. Sehingga, sudah selayaknya memiliki aturan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk menjalankan ibadah shalat.

Aturan tersebut sekaligus sebagai syiar agar umat Islam tidak lupa menjalankan solat lima waktu. “Sebagai umat beragama, jangan hanya mengutamakan aktivitas duniawi. Beri waktu untuk melaksanakan shalat,” imbuh Ketua Komisi 1 tersebut.

Dan bagi pemilik usaha, seperti toko dan rumah makan, lanjut Faisal, diimbau untuk  menutup tempat usahanya sementara waktu hingga selesainya shalat jumat.

Karyawan diberi kesempatan untuk melaksanakan shalat jumat, sekaligus memberi waktu untuk istirahat yang cukup bagi karyawan, khususnya yang beragama Islam.

Kota Sukabumi identik dengan kota santri, atau kota religus. Sudah semestinya Pemkot Sukabumi memiliki ketentuan yang mengatur pembatasan jadwal operasi pusat perdagangan.

“Kesempatan shalat tentu hanya bagi yang beragama Islam, bukan untuk umat agama lain. Semoga  Kota Sukabumi penuh berkah dan Rahamatan Lilalamin,” tukasnya.

Aturan tersebut, sambung Faisal dilakukan secara bersinambungan. Untuk tahap awal dilakukan dengan cara himbauan. Jika dalam bentuk himbauan tidak diindahkan, aturan diterapkan dengan mengeluarkan peraturan wali kota.

“Kalau karyawan rajin ibadah, insya Allah usaha mereka akan semakin maju dan barokah, karena didoakan oleh pegawainya,” pungkasnya.

 

Editor: Sabastian

.