Senator Muslim Komitmen Menjaga Kebhinekaan dan NKRI

©
Prof. Dr. Dailami Firdaus

Transbogor.co- Komitmen para senator muslim dalam menyikapi permasalahan yang menimpa bangsa diwujudkan dengan mengadakan kegiatan pengajian, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan.

Selaku penanggungjawab kegiatan Senator asal Jakarta, Prof. Dr. Dailami Firdaus, biasa dipangggil bang Dailami, dalam kata pengantarnya mengatakan, bahwasannya kegiatan pengajian senator muslim ini merupakan Inisiatif teman-teman senator untuk mengoptimalkan peran institusional dan peran personal bagi kemashlatan daerah, bangsa dan umat.

Menghadirkan penceramah, DR. Khoiron M Arief, Lc, MA (Direktur Lembaga Pengkajian Islam Universitas Islam As-Syafiiyah ), dengan Tema “Islam dan Politik”. Dirasa sangatlah pas dengan kondisi yang dialami bangsa Indonesia saat ini. Isi yang disampaikan penceramah kepada para senator muslim yang hadir sangat lah positif dan konstruktif.

Dari pelaksanaan giat pengajian ada beberapa hal yang disampaikan, terutama oleh Wakil Ketua DPD-RI, Prof. DR, Farouk Muhammad yaitu, permasalahan yang saat ini terjadi di bangsa ini sebenarnya karena adanya “Ketidakadilan dan Ketimpangan” yang dirasakan oleh masyarakat.

Yang akhirnya mampu mengerakkan gelombang aksi masyarakat di antaranya adalah aksi bela Islam dan Aksi Buruh. Namun, yang sangat menyita perhatian adalah, Aksi Bela Islam, di mana aksi tersebut seolah-olah memperlihatkan, bahwa Islam itu Intoleran dan anti Pancasila serta anti Kebhinekaan dan dapat mengancam Persatuan dan kesatuan Bangsa.

Opini itu justru sangatlah tidak bijak, karena terjadinya Aksi Bela Islam, jelas adalah bukti kecintaan umat Islam terhadap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan sebuat gerakan sosial untuk mewujudkan serta menegakan hukum yang berkeadilan dan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Di mana kasus penistaan Agama jelas adalah sebuah tindak pelanggaran Hukum yang dapat langsung dijatuhi hukuman dan seharusnya dapat langsung ditangani dan tidak dibiarkan menjadi bola liar. Kesungguhan dan kecakapan pemerintah sangat ditunggu masyarakat, jangan sampai hal ini dapat memicu konflik berkepanjangan.

Kata penutup pun disampaikan Ketua DPD RI, Muhammad Saleh yang menyampaikan bahwasannya sebuah hal yang penting adalah membangun kesadaran dan mengoptimalkan peran strategis umat Islam untuk kejayaan Indonesia dan kemashlatan umat.

Tak lupa seluruh senator mengapresiasi kegiatan pengajian tersebut dan berharap untuk menjadi kegiatan yang rutin, guna mendapatkan solusi dan cara dari segala permasalahan yang menimpa bangsa.

Menutup kegiatan, moderator Senator, AM Iqbal Parewangi (Senator asal Sulsel) membacakan 6 butir kesimpulan dari pengajian senator muslim, antara lain:

1. Politik menurut Islam adalah semua kegiatan yg mengatur kemaslahatan hidup manusia dunia dan akhirat.

2. Prinsip politik Islam yaitu : rabbani, adil, maslahat dunia dan akhirat, persamaan dalam hukum, dan moderat.

3. Hubungan Pancasila dengan Islam sudah final. Pancasila itu Islami. Pancasila menyerupai Piagam Madinah dan dapat  disebut Piagam Madinah II.

4. Mendakwahkan Islam wajib bagi setiap muslim. Siapa lagi yang mendakwahkan Islam kalau bukan kita, karena tidak mungkin orang lain.

5. Akar masalah kekinian Indonesia adalah ketimpangan sosial, ketidakadilan penegakan hukum, ketidakadilan ketenagakerjaan, rendahnya manfaat demokrasi, dan ketimpangan ekonomi.

6. Pengajian Senator Muslim rutin dilaksanakan setiap bulan dan terus dibesarkan untuk membangkitkan ghirah keislaman dalam perjuangan melalui parlemen.

Adapaun Senator yang hadir pada Pengajian Senator Muslim antara lain, Muhammad Saleh (Ketua DPD RI), Prof DR Farouk Muhammad (Wakil Ketua DPD RI), Dedi Iskandar Batubara dan Prof DR Damayanti Lubis (Sumut), Abd Jabbar Toba dan Wa Ode Hamsinah Maane Bolu (Sultra), Denty Eka Widi Pratiwi dan GKR Ayu Koes Indriyah (Jateng), Emma Yohanna (Sumbar), Abdul Rahmi (Kalbar), Aji Muhammad Mirza Wardana (Kaltim), Ayi Hambali (Jabar), Prof DR Dailami Firdaus (Jakarta), AM Iqbal Parewangi dan DR Abd Aziz Qahhar Muzakkar (Sulsel),  Lalu Suhaimi Ismi dan Baiq Diyah Ratu Ganefi (NTB), serta Habib Ali Alwi Al-Husainy (Banten).

 

Editor: Sabastian

.