Letter C Hilang, Warga dan LSM-Kompak Ontrog Kantor Kecamatan

©
DEMO- Warga, Aliasi Masyarakat Cibeureum dan LSM-Kompak berorasi ketika melakukan unjuk rasa di halaman Kantor Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (8/2/2017). [IST]

Transbogor.co- Puluhan warga Kecamatan Cibeureum, Aliansi Masyarakat Cibeureum, dan Lembaga Swadaya Masyarakat Koalisi Masyarakat Pengawal Konstitusi (LSM-Kompak) menggelar unjuk rasa di kantor kecamatan setempat, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (8/2/2017).

Mereka menduga adanya rekayasa pengalihan hak tanah milik, Hussain Slamet yang dilakukan oleh oknum aparat pemerintah di wilayah Kecamatan Cibeureum.

Lahan warisan yang seharusnya dimiliki Hussain dari orang tuanya Abdul Fatah (almarhum) berpindah tangan kepada orang lain tanpa sepengetahuannya. Tindakan pemerintah gegabah dalam mengurusi pengalihan hak tanah.

“Tanah milik Pak Husaain sebagai anak dari Abdul Fatah (alm) diperjualbelikan kepada orang lain. Pengalihan diduga tidak melalui prosedur peralihan hak tanah yang benar,” ujar Ketua Bidang Hukum dan HAM LSM-Kompak, Dian Herdinata.

Mereka juga menduga oknum pegawai kecamatan bersekongkol dengan Ema Suryati, anak angkat dari Abdul Fatah (alm) dengan istri keduanya Atikah. Abdul Fatah (Alm) menikah dengan Atikah, setelah istri pertamanya yang merupakan Hussain meninggal dunia.

“Kalau jual-beli dilakukan sesuai prosedur yang benar, proses pembuatan AJB (akta jual beli) harus menyertakan tandatangan Pak Hussain sebagai pewaris tunggal,” ungkap Dian.

Hussain, lanjut Dian, mengetahui masalah tersebut setelah terjadinya peralihan. Sebagai ahli waris, Hussain menuntut keadilan, dan meminta pihak yang terlibat dalam persekongkolan tersebut untuk bertanggung jawab.

“Semua yang terlibat harus bertanggung jawab, kelurahan, kecamatan, notaris maupun Bu Ema yang mengajukan peralihan hak atas tanah,” tegasnya.

Dian juga mempertanyakan hilangnya (Letter C) di kelurahan. Dokumen register pencatatan tanah dan kepemilikannya itu diterbitkan oleh kelurahan. Mereka ingin memastikan kepemilikan yang sah yang tercantum dalam surat hak atas tanahtersebut.

“Ketika ditanya di kelurahan, letter C hilang. Lalu apa dasar bagi pihak kelurahan dalam mengurusi peralihan tanah tersebut. Masa arsip negara bisa hilang, ini bisa kena pidana,” tukasnya.

Dian mengancam akan melaporkan kasus tersebut kepolisian, jika pihak kelurahan maupun kecamatan tidak mengembalikan hak-hak atas tanah kepada Hussain. “Kalau tidak ada kejelasan, Kompak akan lanjut melaporkan ke polisi,” tegasnya.

Dian mengungkapkan, ada lima bidang tanah warisan (alm) Abdul Fatah yang diduga jual oleh Ema kepada pihak lain, yakni tanah seluas 900 meter persegi, 356 m2, 540 m2 dan 149 m2, di Blok Selaawi, serta luas 1.305 m2 di Blok Selaeurih. “Semuanya disinyalir digelapkan proses peralihan hak tanah tersebut,” tuduhnya.

Camat Cibereum, Ardian Hariadi membenarkan hilangnya Letter C tanah milik (alm) Abdul Patah. Namun, dia tidak mengetahui secara pasti permasalahan jual-beli lahan tersebut.

Meski begitu, Ardian berjanji mengundang Ema Suryati dan Hussain untuk menjelaskan persoalan tersebut agar diketahui duduk persoalannya. “Saya sudah cari, saya tidak tahu ada di mana. Makanya, untuk mencari solusi harus di rembukan dengan kedua pihak yang bersengketa,” tegasnya.

 

Editor: Sabastian 

.