Hasil Razia Besar, Polda Kepri Tetapkan 30 Tersangka "Solar"

  Sejumlah mobil, tangki fiber, drum dan beberapa truk tangki besar memenuhi lapangan Mapolda Kepri, Batam, Rabu (8/10). Polda Kepri terus melakukan penertiban praktik penyelewengan BBM jenis solar bersubsidi yang marak terjadi di Batam, sejak bulan September lalu ratusan barang bukti terkait kasus tersebut telah diamankan, selain itu polisi juga menyegel gudang solar dan SPBU serta menahan pelaku. foto: Antara

Batam, Trans Bogor  - Setelah melakukan razia besar-besaran yang digelar selama tiga bulan terakhir, Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Riau (Kepri) menetapkan 30 tersangka kasus penyelewengan solar bersubsidi.

"Sebenarnya sejak awal tahun kami razia. Namun yang gencar memang akhir-akhir ini. Sudah ada 30 orang yang ditetapkan sebagai tersangka," kata Kepala Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kepri, AKBP Charles P Sinaga, di Batam, Selasa (7/10) lalu.

Ia mengatakan, tersangka terdiri dari sopir mobil penyeleweng solar, penjaga gudang solar bersubsidi ilegal, pengelola gudang hingga pemilik gudang.

"Tiga kasus dengan tiga tersangka sudah dinyatakan P-21 (lengkap). Sementara untuk yang lainnya masih terus diproses," kata dia.

Polisi juga mengamankan 61 unit mobil yang digunakan untuk menyelewengkan solar.

Mobil yang rata-rata berjenis sedan, serta beberapa minibus tersebut sudah dimodifikasi dengan tangki besar pada bagian tangki belakang sehingga mampu memuat banyak minyak bersubsidi yang selanjutnya disetorkan kepada sejumlah gudang ilegal untuk dijual ke industri.

Dalam penggerebekan sejumlah gudang ilegal, polisi juga mengamankan dua mobil tangki dengan kapasitas 10 ribu dan 8.000 liter solar, sejumlah bak penampungan solar ukuran besar, sejumlah jeriken serta mesin penyedot minyak.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri, Sahardiantono, mengatakan, kegiatan ilegal tersebut merugikan negara Rp 1,3 miliar per hari.

"Per hari ada sekitar 200.000 liter per hari. Hitung saja dengan harga solar bersubsidi saat ini," katanya.

Harga solar bersubsidi saat ini Rp6.500 per liter, jika dikalikan dengan 200.000 liter maka kerugian negara akibat penyalahgunaan solar bersubsidi mencapai Rp1,3 miliar per hari atau perbulan mencapai Rp39 miliar.

"Menurut Pertamina, kuota solar bersubsidi di Batam sebelumnya 400.000 liter per hari. Setelah dilakukan razia terhadap mobil penyeleweng solar dan sejumlah gudang penampung di Batam, saat ini kuota yang disalurkan per hari hanya 200.000 liter saja," kata dia.

Saat masih banyak mobil penyeleweng solar beroperasi di SPBU-SPBU Batam, jelas dia, kuota 400.000 liter tersebut masih kurang dan mengakibatkan kelangkaan. Sementara saat ini dengan kuota 200.000 liter tidak ada lagi kelangkaan.

"Artinya, 200.000 liter adalah kuota riil untuk Batam. Karena sudah tidak ada keluhan lagi di masyarakat," kata Syahar. Ia mengatakan, perbedaan harga yang mencolok antara solar bersubsidi dengan nonsubsisi (Rp 11.500 per liter) mengakibatkan banyak penyelewengan di Batam.

(ams/BS)

.