Menag : Kita Terus Memperkuat Kaderisasi Santri dan Ulama

©

Transbogor.co-Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjadi keynote speaker dalam Halaqoh Ulama Untuk pendidikan dan Kaderisasi Santri yang dihelat oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren bekerjsama dengan Majelis Ulama Indonesia di Salak Tower, Kamis (18/5).  Menurutnya, Kementerian Agama sangat memahami bahwa kondisi saat ini persoalan begitu kompleks karena memang bangsa Indonesia merupakan bangsa yang heterogen penduduknya, begitu besar jumlah penduduknya dan memiliki banyak kemajemukan.

“Tentunya ini terus menjadi kajian kita bersama, kerjasama antara Kemenag dan MUI sangat diperlukan. Karena antara Ulama dan Umaro bagai sebuah sayap yang ada pada burung, jadi keduanya saling membutuhkan dan saling menguatkan,” kata Menag.

Oleh karenanya, beber dia, Kemenag terus berupaya mendukung dan melakukan proses kaderisasi pendidikan baik dari segi keulamaan maupun pendidikan keagamaan lainnya, karena jika proses pendidikan atau kaderisasi keluar dari ruhnya tentu ini akan sangat berbahaya.

“Kalau pendidikan ulama keluar dari esensi Negara ini tentu sangat berbahaya, dan itu yang tidak kita harapkan,” tandasnya.

Maka dari itu, Kemenag terus berupaya memperkuat posisi Pondok Pesantren, karena menurutnya Ponpes merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang original yang ada di Indonesia. “Hal itu kita buktikan dengan mendirikan 13 Ma’had alie dan memperkuat pendidikan Ponpes Muadallah,” imbuhnya.

Dirinya juga berpesan, semoga melalui kegiatan ini bisa memberikan pemahaman yang luas kepada para santri dan kader ulama-ulama yang ada di seluruh Indonesia terutama bagaimana perkembangan dunia informasi atau dunia teknologi saat ini, karena hal itu tidak mungkin dihalangi.

“Kita (kemenag,red), tentu berharap ada rekomendasi-rekomendasi yang bagus, dan kita akan mendukung rekomendasi yang dihasilkan nantinya,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin mengungkapkan, kaderisasi ulama sangat penting karena itu berkaitan dengan keberlangsungan ummat Islam, karena memang diajarkan agar ummat islam tidak meninggalkan keturunan yang lemah.

“Kita diingatkan agar tidak meninggalkan atau menghasilkan keturunan yang lemah, maka untuk itu upaya kita perkuat proses kaderisasi generasi kita,” kata Amin.

Hanya saja, sambung dia, persoalan yang ada saat ini dalam hal pengembangan pendidikan jumlah lembaga pendidikan dengan jumlah umat belum berbanding lurus sehingga proses kaderisasi ini agar terhambat.

“Sejatinya, kita mulai menyiapkan ulama-ulama dan tokoh perubahan untuk memperkuat masyarakat kita,” imbuhnya.

Dirinya pun berharap kerjsama dengan Kemenag terus ditingkatkan hal itu untuk menunjang proses kaderisasi yang ada, sehingga kedepan ulama atau kaderisasi yang dhasilkan begitu responsive terhadap kondisi masyarakat dewasa ini.

“Kader-kader ulama kita harus responsive terhadap persoalan ummat saat ini, maka ulama kita harus pintar dan memahami persoalan bangsa kita hari ini,” pungkasnya.

Editor : adipati

Transbogor.co-Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjadi keynote speaker dalam Halaqoh Ulama Untuk pendidikan dan Kaderisasi Santri yang dihelat oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren bekerjsama dengan Majelis Ulama Indonesia di Salak Tower, Kamis (18/5).  Menurutnya, Kementerian Agama sangat memahami bahwa kondisi saat ini persoalan begitu kompleks karena memang bangsa Indonesia merupakan bangsa yang heterogen penduduknya, begitu besar jumlah penduduknya dan memiliki banyak kemajemukan.

“Tentunya ini terus menjadi kajian kita bersama, kerjasama antara Kemenag dan MUI sangat diperlukan. Karena antara Ulama dan Umaro bagai sebuah sayap yang ada pada burung, jadi keduanya saling membutuhkan dan saling menguatkan,” kata Menag.

Oleh karenanya, beber dia, Kemenag terus berupaya mendukung dan melakukan proses kaderisasi pendidikan baik dari segi keulamaan maupun pendidikan keagamaan lainnya, karena jika proses pendidikan atau kaderisasi keluar dari ruhnya tentu ini akan sangat berbahaya.

“Kalau pendidikan ulama keluar dari esensi Negara ini tentu sangat berbahaya, dan itu yang tidak kita harapkan,” tandasnya.

Maka dari itu, Kemenag terus berupaya memperkuat posisi Pondok Pesantren, karena menurutnya Ponpes merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang original yang ada di Indonesia. “Hal itu kita buktikan dengan mendirikan 13 Ma’had alie dan memperkuat pendidikan Ponpes Muadallah,” imbuhnya.

Dirinya juga berpesan, semoga melalui kegiatan ini bisa memberikan pemahaman yang luas kepada para santri dan kader ulama-ulama yang ada di seluruh Indonesia terutama bagaimana perkembangan dunia informasi atau dunia teknologi saat ini, karena hal itu tidak mungkin dihalangi.

“Kita (kemenag,red), tentu berharap ada rekomendasi-rekomendasi yang bagus, dan kita akan mendukung rekomendasi yang dihasilkan nantinya,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin mengungkapkan, kaderisasi ulama sangat penting karena itu berkaitan dengan keberlangsungan ummat Islam, karena memang diajarkan agar ummat islam tidak meninggalkan keturunan yang lemah.

“Kita diingatkan agar tidak meninggalkan atau menghasilkan keturunan yang lemah, maka untuk itu upaya kita perkuat proses kaderisasi generasi kita,” kata Amin.

Hanya saja, sambung dia, persoalan yang ada saat ini dalam hal pengembangan pendidikan jumlah lembaga pendidikan dengan jumlah umat belum berbanding lurus sehingga proses kaderisasi ini agar terhambat.

“Sejatinya, kita mulai menyiapkan ulama-ulama dan tokoh perubahan untuk memperkuat masyarakat kita,” imbuhnya.

Dirinya pun berharap kerjsama dengan Kemenag terus ditingkatkan hal itu untuk menunjang proses kaderisasi yang ada, sehingga kedepan ulama atau kaderisasi yang dhasilkan begitu responsive terhadap kondisi masyarakat dewasa ini.

“Kader-kader ulama kita harus responsive terhadap persoalan ummat saat ini, maka ulama kita harus pintar dan memahami persoalan bangsa kita hari ini,” pungkasnya.

Editor : adipati

.