Dedi Prijono Dipanggil KPK Jadi Saksi Kasus Setnov

©net

Transbogor.co - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  terus menggali informasi untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Ketua DPR RI, Setya Novanto, dalam kasus dugaan korupsi e-KTP.

Satu saksi yakni Dedi Prijono, kakak Andi Agustinus alias Andi Narogong, dipanggil untuk diperiksa, Selasa (1/8/2017).

“Yang bersangkutan akan diperiksa untuk tersangka SN (Setya Novanto),” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, saat dikonfirmasi.

Dedi pun datang memenuhi pemeriksaan KPK. Dia terlihat memasuki Gedung KPK di Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, sekitar pukul 10:00 WIB.

Terkait penyidikan kasus korupsi yang ditaksir merugikan keuangan negara hingga Rp2,3 triliun ini, Dedi pun telah dicegah berpergian ke luar negeri. “Pencegahan dilakukan untuk enam bulan ke depan terhitung sejak 5 Juli 2017,” kata Febri.

Diduga Dedi merupakan salah seorang saksi penting dalam megakorupsi ini. Dalam kesaksiannya di persiangan kasus e-KTP dengan terdakwa mantan pejabat Kemendagri, Irman dan Sugiharti, Senin (10/4/2017), Dedi  mengaku mendekati Perusahaan Umum Percetakan Negara Republik Indonesia (Perum PNRI) agar menjadi perusahaan subkontraktor yang mengerjakan proyek e-KTP.

“Saya mendekati Pak Isnu (Ketua Konsorsium PNRI) agar mendapat pekerjaan (e-KTP) untuk menjadi subkon,” katanya, dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Dedi yang merupakan pengusaha industri rumah tangga “elektroplating” itu juga mengaku ikut hadir dalam pertemuan di rumah Andi Naragong di Kemang Pratama setelah pengumuman lelang e-KTP pada 2011. “Saya ikut mewakili Andi, minta pekerjaan ke PNRI,” ujarnya.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan lima tersangka terkait perkara korupsi proyek e-KTP. Selain Setya Novanto, empat tersangka lain yaitu pengusaha Andi Narogong, anggota DPR dari Fraksi Golkar Markus Nari, mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri Irman, dan mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Kemendagri Sugiharto.

Irman dan Sugiharto sudah divonis bersalah dan dijatuhkan pidana masing-masing selama tujuh dan lima tahun penjara. Mereka terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi proyek pengadaan e-KTP, secara bersama-sama.

Sementara untuk tersangka Andi Narogong, berkas perkaranya sudah dirampungkan oleh penyidik dan telah dilimpahkan ke tahap penuntutan. Andi pun akan segera diadili dalam waktu dekat. (pskt)

.