Stok Air Irigasi Untuk Pertanian di Bogor Menipis

©net
ilustrasi

Transbogor.co - Memasuki musim kemarau, cadangan air irigasi di Kecamatan Cariu dan Tanjungsari mulai menipis. Agar tanamannya tetap hidup, petani harus menggunakan mesin pompa bantuan dari pemerintah untuk mengambil air dari dalam tanah.

Kepala UPT Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Tatang Mulyadi menerangkan, di musim kemarau ini para petani memanfaatkan alat bantu dari pemerintah untuk mengambil air di beberapa sumber air.

 
“Hingga kini, petani memanfaatkan potensi sumber air yang ada, baik dari embung maupun kali atau saluran irigasi yang telah diperbaiki. Mereka juga memanfaatkan pompa air lewat swadaya kelompok tani,” ujarnya seperti dilansir pojoksatu, Rabu (02/08/2017).

Dengan memanfaatkan sumber air, kata dia, para petani masih dapat mempertahankan tanamannya hingga panen. “Jadi masih bisa dikatakan aman,” terangnya.

Selain memanfaatkan potensi air, petani memanfaatkan lahan untuk ditanami palawija seperti jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau.

Terlebih, Kecamatan Cariu dan Tanjungsari telah mendapat bantuan dalam upaya pengembangan jagung. “Bantuan kami berikan pada Poktan. Desa yang dapat bantuan, yaitu Sukarasa 50 hektare, Buanajaya 30 hektare, dan Desa Cariu 15 hektare,” tuturnya.

 
Untuk kedelai, sambungnya, ada di Desa Bantarkuning seluas 65 hektare dan Desa Kutamekar 25 hektare. Penerapan strategi itu dinamai pengaturan irigasi secara bergilir. Ini dimaksudkan agar petani tidak mengalami kerugian besar.

“Pemerintah juga telah menerapkan sistem pola tanam agar petani tidak mengalami kerugian. Terkhusus di Kecamatan Tanjungsari dan Cariu, yang sebagian besar lahannya tadah hujan,” tandasnya.(pjs)

.