Subhanallah, di Planet Es ada Hujan Berlian

©net
ilustrasi

Transbogor.co - Dalam sebuah percobaan yang dirancang peneliti untuk meneliti kondisi planet es di tata surya, peneliti temukan hal yang mengejutkan. Para ilmuwan mengamati 'hujan berlian' untuk pertama kalinya yang terbentuk akibat kondisi tekanan yang sangat tinggi.

Dilansir dari Sciencedaily.com, Selasa (22/8/2017), tekanan yang sangat tinggi memeras hidrogen dan karbon yang ditemukan pada planet tersebut dan membentuk 'berlian' padat yang turun ke daratan seperti hujan. Curah hujan berlian tersebut telah lama dihipotesiskan muncul dari 5 ribu mil di bawah permukaan Uranus dan Neptunus.

Peneliti menyimulasikan lingkungan kedua planet tersebut dengan menciptakan gelombang kejut dalam plastik dengan laser optik yang intens pada instrumen Matter in Extreme Conditions (MEC) di SLAC National Accelerator Laboratory's dengan laser X-ray elektron bebas dan Linac Coherent Light Source (LCLS). Dalam percobaan tersebut, peneliti melihat bahwa hampir setiap atom karbon dari plastik digabungkan ke dalam struktur berlian kecil sampai beberapa nanometer.

Pada Uranus dan Neptunus, peneliti memprediksi bawah berlian akan jauh lebih besar dan mungkin jutaan karat beratnya. Peneliti juga memperkirakan bahwa selama ribuan tahun, berlian tersebut perlahan-lahan akan meresap ke lapisan es planet dan merapat ke lapisan tebal di sekitar inti planet.

"Sebelumnya, peneliti hanya bisa berasumsi bahwa berlian telah terbentuk dari awal, tetapi ketika melihat hasil eksperimen terbaru ini, ternyata tidak," ungkap Dominik Kraus, ilmuwan di Helmholtz Zentrum Dresden-Rossendorf dan penulis utama penelitian ini. Pada percobaan sebelumnya, peneliti mencoba menciptakan hujan berlian dalam kondisi yang sama tetapi tidak secara real-time.

Ketika para astronom mengamati exoplanet di luar tata surya, mereka dapat mengukur massa dan jari-jari planet. Hubungan antar keduanya digunakan untuk mengklasifikasikan sebuah planet dan membantu peneliti untuk menentukan apakah planet tersebut terdiri dari elemen yang lebih ringan atau lebih berat.

"Dengan planet, hubungan antara massa dan radius bisa memberi tahu sedikit ilmuwan tentang bahan kimia yang ada di dalamnya, dan kimia yang ada dapat memberikan informasi tambahan tentang ciri khas planet," ungkap Kraus. Informasi dari penelitian seperti ini dapat mengubah cara ilmuwan menghitung antara massa dan radius, yang memungkinkan para ilmuwan untuk lebih dalam membuat model dan mengklasifikasikan planet.

"Kami tidak bisa masuk ke planet tersebut dan melihatnya secara langsung, jadi eksperimen laboratorium ini melengkapi pengamatan satelit dan teleskop," tambah Kraus. Para peneliti juga berencana menerapkan metode yang sama untuk melihat proses lain yang terjadi di planet tersebut (okz)

.