Duka Derita Rohingya yang Butuh Uluran Bantuan

©net

Transbogor.co - Sudah hampir dua pekan etnis Rohingya kembali terpuruk dalam kekejian di negeri mereka sendiri, Myanmar. Tapi, suara maupun manuver Aung San Suu Kyi – tokoh demokrasi dan HAM yang kini jadi salah satu petinggi di Myanmar – untuk mengatasi krisis kemanusiaan atas etnis Rohingya di negara bagian Rakhine itu belum juga terdengar.

Itu sebabnya banyak warga dan sejumlah tokoh di berbagai belahan dunia kini menyampaikan keprihatinan mereka atas situasi di Myanmar. Mulai dari kicauan di media sosial hingga aksi unjuk rasa.  

 
"Dunia menunggu Anda, Muslim Rohingya menunggu Anda." Tulisan 'menunggu' itu disampaikan oleh Malala Yousafzai, gadis asal Pakistan yang terkenal karena pembelaannya pada hak-hak anak perempuan untuk tetap bisa sekolah. Malala, penerima Nobel Perdamaian pada tahun 2014, menyampaikan kegelisahan dan kesedihan atas tragedi kemanusiaan yang terjadi pada etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar. Ia mengkritik Aung San Suu Kyi, yang selama tragedi Rohingya tak juga bersuara.

Melalui akun Twitternya Malala meminta Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar untuk melakukan atau mengatakan sesuatu terkait aksi kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar kepada etnis Rohingya. Melalui media sosial itu, Malala meminta agar aksi kekerasan di Myanmar dihentikan, etnis Rohingya diakui kewarganegaraannya, dan seluruh negara di dunia bersedia membantu pengungsi Rohingya.

"Selama beberapa tahun terakhir, saya selalu mengutuk perilaku tragis dan memalukan ini. Saya masih menunggu rekan saya, sesama penerima Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi untuk melakukan hal yang sama. Dunia menunggu, dan Muslim Rohingya menunggu," tulis Malala, 4 September 2017.

Malala tak sendirian. Kesunyian Suu Kyi, penerima penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1991, atas aksi kekerasan yang terjadi di depan matanya sendiri membuat dunia kecewa.

Kesunyian Suu Kyi sudah terasa sejak Oktober 2016, ketika terjadi kekerasan yang sama terhadap etnis Rohingya di Rakhine. Saat itu Suu Kyi juga tak bersuara. Padahal sejak Januari 2016, Suu Kyi secara resmi sudah menjadi pemimpin Myanmar. Meski sudah tak lagi menjadi tahanan rumah, dan sudah menjadi pemimpin, namun perempuan paruh baya itu seperti tak terhubung dengan Rakhine. Entah sejauh apa jarak yang membentang, ia tak berkomentar.

Februari 2017, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra'ad Al Hussein mencatat, Suu Kyi tak sedikitpun menampakkan kondisi emosional ketika membaca laporan PBB tentang pembantaian terhadap Rohingya yang ia sampaikan pada Februari 2017.

Akhir Agustus 2017, konflik yang berujung pada tragedi kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, kembali terulang. Dan Suu Kyi kembali diam. Ia tak berkomentar dan menunjukkan sikap jelas atas kekerasan dan kebrutalan tentara Myanmar terhadap etnis Rohingya.

Minggu lalu, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson juga mengecam Suu Kyi. "Aung San Suu Kyi pernah menghadapi tantangan besar di negaranya sendiri. Saya berharap saat ini ia bisa menggunakan kualitasnya yang sudah diakui untuk menyatukan negaranya, untuk menghentikan kekerasan dan mengakhiri prasangka yang menimbulkan sengketa antara Muslim dan komunitas lain di Rakhine," ujar Johnson seperti diberitakan oleh Reuters, 3 September 2017.

Sekjen PBB Antonio Guterres, mengaku sangat mencermati perkembangan atas situasi yang terjadi di Rakhine. Ia meminta seluruh pihak untuk menahan dan menenangkan diri untuk mencegah terjadinya bencana kemanusiaan.Sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, apa yang terjadi di Rakhine adalah genosida atau pembersihan etnis.

Kecaman Keras

Penggunaan istilah pembersihan etnis dalam krisis di Rakhine telah ditolak Suu Kyi pada April 2017. Dalam wawancaranya dengan  BBC, ia mengatakan penggunaan istilah pembersihan etnis terlalu keras, karena sebenarnya tak seperti itu yang terjadi di Rakhine.

Kecaman paling keras atas sikap diam Suu Kyi datang dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Indonesia, Pakistan, dan Arab Saudi. Menteri Luar Negeri Pakistan Khawaja Muhammad Asif mengekspresikan kemarahannya atas kekerasan yang terjadi pada Muslim Rohingya.

Warga etnis Rohingya di Myanmar mengungsi dari wilayah konflik

Warga etnis Rohingya di Myanmar mengungsi dari wilayah konflik di Rakhine. (Foto: REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

"Pakistan mendesak organisasi Islam untuk segera mengambil tindakan yang efektif untuk mengakhiri aksi kekerasan pada warga Rohingya yang tak berdosa dan tak bersenjata," ujarnya seperti dikutip dari Al Arabiya, 5 September 2017.

Sikap yang sama juga disampaikan oleh Arab Saudi. Pemerintah Saudi mengaku terus memantau kondisi yang terjadi di Rakhine dan meminta tindakan segera dari pemerintah Myanmar untuk menghentikan aksi kekerasan di sana.

Tapi kepada pemerintah Indonesia Suu Kyi membuka diri. Senin, 4 September 2017, ia menerima kedatangan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. Kepada wartawan Retno mengatakan, telah menyampaikan keprihatian atas kasus di Rakhine. Retno juga meminta pemerintah Myanmar segera menyelesaikan krisis tersebut dan melindungi seluruh warganya tanpa memandang suku, agama, dan ras mereka. Sayangnya, meski Retno sudah berbicara, Suu Kyi tetap diam. Ia tak memberikan pernyataan apa pun terkait permintaan Indonesia.

Sikap diam Suu Kyi menjadi gugatan luas. Gugatan yang sangat bisa diterima, karena ia adalah seorang penerima Nobel Perdamaian. Tahun 1991, saat menganugerahi Suu Kyi sebagai penerima Nobel Perdamaian, Komite Nobel di Oslo, Norwegia memberi catatan khusus. 

"Dalam pemberian Hadiah Nobel Perdamaian kepada Aung San Suu Kyi, kami ingin menghormati wanita ini atas usahanya yang tak kunjung padam dan untuk menunjukkan dukungannya bagi banyak orang di seluruh dunia yang berjuang untuk mencapai demokrasi, hak asasi manusia dan konsiliasi etnis dengan cara damai," ujar Komite. Suu Kyi, Komite menambahkan, adalah "simbol penting dalam perjuangan melawan penindasan".

Penyematan sebagai  "simbol penting perjuangan melawan penindasan," sudah diberikan Komite Nobel sejak 26 tahun yang lalu. Sudah hampir tiga dekade. Mungkin Suu Kyi sudah lupa, bahwa ia adalah simbol perjuangan melawan penindasan. Sehingga ia lupa untuk menghentikan kekerasan dan penindasan yang terjadi tepat di depan matanya, bahkan untuk sekedar menyampaikan kata duka dan prihatin. (vvn)

.