Untuk Penyakit Mahal, BPJS Kesehatan Sudah Rogoh Hampir 13 Triliun

Transbogor.co - Direktur Utama  Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Fachmi Idris mengatakan hingga semester I pengeluaran pembiayaan katastropik atau pengobatan untuk penyakit-penyakit yang membutuhkan biaya yang mahal sebesar Rp 12,7 triliun.

Jumlah tersebut merupakan 24,81 persen dari biaya rumah sakit yang dikeluarkan BPJS Kesehatan.

Ditemui usai menghadiri senam sehat di Taman Ayodya, Jakarta Pusat, Fachmi mengatakan, data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat yang memiliki penyakit dengan pembiayaan mahal seperti diabetes melitus dan hipertensi cukup banyak di Indonesia.
Fachmi juga menjelaskan, munculnya penyakit-penyakit mahal tersebut timbul akibat pola hidup masyarakat yang kurang sehat, seperti merokok, mengkonsumsi makanan tidak sehat, hingga kurang olahraga.


BPJS Kesehatan menggandeng Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK) untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat untuk hidup sehat.

"Kesehatan menjadi salah satu pilar yang menentukan kemajuan suatu bangsa, sebab kesehatan mempengaruhi produktivitas penduduknya. Ke depannya kami berharap kesadaran masyarakat untuk membudayakan pola hidup sehat dapat meningkat dari waktu ke waktu," ungkap Fachmi.


Hingga 1 November 2017, jumlah peserta JKN-KIS telah mencapai 184.486.348 jiwa. Dalam memberikan pelayanan kesehatan, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 21.384 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang terdiri atas 9.842 Puskesmas, 4.709 Dokter Praktik Perorangan, 5.642 Klinik Pratama, 14 RS Kelas D Pratama, serta 1.177 Dokter Gigi.


Di tingkat rujukan, BPJS Kesehatan telah bermitra dengan 5.642 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang terdiri atas 2.258 Rumah Sakit dan Klinik Utama, 2.370 Apotek, dan 1.014 Optik. (trbn)

.