Anak Malas? Ini Tips Menaklukannya

©net
ilustrasi

Transbogor.co - Gemas itu ketika melihat anak-anak bukannya bangun tidur langsung mandi dan siap-siap sekolah, tapi malah bermalas-malasan seperti nggak punya motivasi. Kalau sudah begini, kita bawaannya ngomel aja ya, Bun, seperti nggak ada remnya. Tapi bukannya si kecil jadi termotivasi, ini nggak ada perubahan. Duh!

Hmm, ternyata menghadapi kemalasan anak dengan banyak ngomong memang nggak akan berhasil, Bun. Nih, ada trik manjur dari Dr Randy Cale, seorang pakar parenting, penulis buku, pembicara, dan psikolog berlisensi.

"Kebanyakan anak-anak mungkin sangat termotivasi untuk bermain video game atau bahkan olahraga, namun tidak menunjukkan ketertarikan pada akademisi, aktivitas keluarga atau membantu mengerjakan tugas dan tanggung jawab," kata Randy seperti dilansir Troyrecord.

Berbeda lagi dengan anak-anak yang hanya ingin bergaul dengan teman-temannya dan sibuk dengan SnapChat. Sementara, orang tualah yang sehari-hari harus berjuang menyelesaikan hal-hal penting.

Daripada ngomel terus, Bun, Rendy meminta agar orang tua berhenti berbicara, berhenti bertanya, berhenti meminta, dan berhenti berdebat berulang kali. Ngomel-ngomel terus tidak akan berhasil.

"Saya tahu itu sulit, tapi penting untuk melakukan tindakan disiplin ini, jika Bunda ingin membuat rencana pengasuhan yang lebih baik. Jadi, mulai dari situ, ayo kita mulai," ujarnya.

Kata Rendy, sebagian besar orang tua menghabiskan banyak waktunya untuk lebih banyak berkata-kata, berusaha mati-matian untuk mengatur kata-kata ke anak. Inilah yang akan melelahkan, juga menciptakan kecemasan pada kita. Nggak cuma itu, ini mungkin menciptakan kecemasan pada anak juga.

"Sebagai gantinya, ubah proses berpikir Anda dengan cara mengelola sistem," imbuh Rendy.

Singkatnya, tanpa mengomel kita bisa 'menuntut' anak-anak melakukan tanggung jawab mereka. Jadi kita buat sistem di mana anak nggak akan dapat yang mereka inginkan atau hal-hal menarik yang bisa didapat mudah setiap hari sebelum mereka melakukan tanggung jawabnya.

Selanjutnya, sambung Rendy, orang tua harus memahami motivasi dasar manusia. Ya, kita semua termotivasi untuk mendapatkan sesuatu. Nah, sistem yang kita bangun dibuat sedapat mungkin bisa memotivasi anak untuk berperilaku positif karena ada tujuan yang ingin dicapai. Di sini, anak akan belajar membuat pilihan yang bertanggung jawab.

Agar kita bisa mengendalikan anak dan mengendalikan motivasinya, kita dapat mengendalikan lingkungan yang disukai anak. Nah, dari situlah orang tua memulai. Jadi kita bisa membuat aturan di rumah yang mana membuat anak harus melakukan tanggung jawabnya lebih dulu, baru dia bisa mendapatkan haknya. 

Sering banget nih, kita tergoda untuk nggak mau membuat anak repot atau kesusahan. Alhasil mereka tumbuh jadi anak yang lupa bahwa segala sesuatu itu harus diusahakan, bukan langsung didapat.

"Memudahkan anak-anak Anda untuk memiliki semua yang mereka inginkan, itu adalah pelajaran yang salah," tambah Rendy.

Saran dari Rendy, kita bisa mengatakan ke anak, "Sayang, kerjakan pekerjaanmu dengan baik, dan setelahnya kamu bisa bermain,".

Selain itu Bun, jangan banyak berdebat, bernegosiasi atau mencoba menjelaskan lebih rinci. Cukup siapkan aturan yang akan dilakukan semua pihak secara konsisten saja. 

Mengendalikan anak bisa dilakukan dengan mulai mengendalikan lingkungan. Misalnya nih, kalau anak maunya nonton televisi terus, maka kita matikan televisi dan internet. Jika anak maunya main game di handphone, maka kita ambil dulu handphone tersebut. Pun, jika anak yang usianya lebih kecil maunya main saja, kita bisa simpan sementara mainan-mainannya. Dengan mengendalikan lingkungan, itu bisa membantu kita mengendalikan anak.

"Lakukan ini setiap hari, tanpa diskusi atau negosiaai, sampai tugas anak selesai. Kendalikan apa yang Anda bisa, dan jangan memikirkan yang lainnya," imbuh Rendy.

Mungkin awalnya anak yang kurang termotivasi bakal ngedumel atau merasa sengsara. Ya, anak-anak tidak akan merasa bahagia dengan perubahan ini, Bun. Tapi kita perlu konsisten untuk mengubah kebiasaan mereka menjadi kebiasaan yang baik. Semangat! (hib)

.