Plandid Dong! Jangan Selfie Terus

©

Transbogor.co - Selfie memang hak setiap orang. Namun ketika seluruh timeline sosial media isinya selfie semua alias foto muka terus, tentunya ini bisa menjadi sesuatu yang menjengkelkan.

Salah satu trik yang bisa dijajal pengguna Instagram adalah plandid. Ini merupakan gabungan dari kata 'plan' dan 'candid' alias gaya foto candid yang terencana. 

Menurut Travel Selebgram Kenny Santana, plandid membuat foto yang dihasilkan menjadi lebih elegan. Dimana hal yang ditonjolkan di sini tidak didominasi oleh muka, melainkan keseluruhan cerita. 

"Kalau selfie itu sudah biasa, dan lama-lama juga ditinggalkan. Dan sekarang memang eranya plandid, karena juga terlihat lebih natural meskipun ini sebenarnya juga settingan," ujarnya saat berbincang dengan sejumlah media di sela Samsung Galaxy Forum di Roma, Italia, Selasa (6/2/2018). 

Contoh gaya plandid yang dimaksud Kenny misalnya ketika berada di sebuah kedai kopi. Dimana dengan kondisi ini biasanya banyak pengguna akan selfie, wefie atau paling banter menjepret kopi atau cappucino yang dipesan. Nah, sebenarnya dengan gaya plandid, kondisi di kedai kopi ini bisa dimaksimalkan dengan cara mengambil gambar kita ketika tengah menyeruput kopi atau dengan gaya bercengkrama bersama teman.

"Gue suka tuh mengambil gaya foto saat sedang jalan atau ngumpul dan (pura-pura) ngobrol, gak cuma diam-diaman saja, tapi ada interaksi dan biar gak kaku, serta ada dinamikanya," lanjut pemilik akun Instagram @kartuposinsta ini. 

Nah, agar tidak merasa kaku saat 'berakting' di depan kamera, user disarankan untuk membayangkan adegan film, video klip, atau gaya saat keseharian. 


"Seperti gue foto di kolam renang tapi gue gak melihat kamera, pura-pura rileks saja jadi adegan seperti lagi menikmati berada di kolam," jelas Kenny, yang juga menjadi menjadi pendiri @KartuPos travel consutant & organizer ini.

Untuk background foto pun sejatinya tak harus selalu berada di tempat terkenal dan pasaran. Bisa saja di tempat yang tidak populer tetapi punya spot foto unik dan kece, justru itu bisa menjadi referensi baru bagi follower Anda.

"Tempat yang anti mainstream justru menarik. Misalkan dia memiliki tembok berwarna atau kafe cantik justru itu bisa jadi tempat kece untuk foto, gak cuma di spot wisata yang mainstream. Banyak tempat-tempat kecil yang bisa jadi spot foto bagus. Misalnya waktu di Sydney, gue ke Diamond Bay bukan cuma plandid di Opera House, tetapi ternyata respons foto gue itu bagus dan banyak yang nanya, 'ini di mana sih?'" Kenny menambahkan. 

Untuk caption sendiri tergantung dari gambar dan pesan yang ingin disampaikan. Jadi tak ada ketentuan caption itu harus panjang atau pendek. Kenny bercerita ketika dia memposting foto Opera House Sydney maka dia tak lantas memilih caption yang terlihat 'berbobot' dengan cara mengambil data dari wikipedia. 

Melainkan dia lebih memilih untuk memberi caption tentang bagaimana cara untuk mendapatkan spot foto Opera House yang Instagrammable, ketimbang menggelontorkan informasi yang panjang lebar tentang asal usul Opera House yang mungkin sudah banyak orang tahu.

"Tapi ada juga gue bikin caption yang panjang. Waktu foto naik kelas Suite SQ (Singapore Airlines) itu gue kasih caption panjang, isinya bagaimana usaha gue naik Suite SQ dengan miles, tetapi niatnya gue mau menginspirasi. 'If i can do it, you can do it too. I'm not born rich, i'm not spending USD 7.000 to have this suite, tetapi gw bisa terbang' dan itu dibalas dengan comment bisa sampai 200-an, banyak yang respons," ungkapnya. 

Jadi di antara foto dan caption merupakan sebuah kombinasi. Kenny menyadari jika generasi milenial cenderung tak mau membaca yang terlalu panjang, tetapi jika pesan yang disampaikan itu kuat dan inspiratif itu ia percaya akan tetap dimakan. 

Tetapi memang, ada foto-foto yang cukup 'speak for itself', tak perlu caption bertele-tele. "Seperti di Jepang, gue foto eskalator dengan kaca-kaca gitu dan stunning banget. Jadi gw pikir gak perlu pake caption juga itu likes-nya udah sampai 2.000-an. Jadi fotonya sendiri kayaknya sudah berbicara 'this is the most Intagrammable places' dan kalo loe ke Tokyo kayaknya harus ke sini dan foto," tegasnya.

Opportunity Selain Selfie 

Munculnya kebutuhan lebih dari sekadar selfie ini pun dilihat Samsung sebagai peluang baru di industri ponsel. Jo Semidang, Corporate Marketing Director Samsung Indonesia menyatakan, generasi milenial lebih memilih bahasa visual dalam berkomunikasi sehingga perlu dipenuhi kebutuhannya dari sisi perangkat telekomunikasi.

Terlebih, penggunaan ponsel saat ini sudah bukan lagi didominasi penggunaannya sebagai perangkat menelpon, melainkan untuk sharing, cari informasi dan ekspresi diri. "Instagram pun sekarang sudah menjadi conversation tool dan di situ ada keinginan untuk memposting gambar yang lebih bagus, tidak asal, pengen berbeda dalam mengekspresikan diri," kata Jo.

Di segmen milenial kelas atas ini Samsung mengandalkan Galaxy A8 dan A8+ sebagai duet ujung tombak penjualan. Perangkat ini disematkan kamera belakang 16 megapixel berfitur autofocus dan aperture f/1,7. Sementara kamera depannya menggunakan kamera ganda kombinasi 16 megapixel + 8 megapixel dengan aperture f/1,9.

Agar makin keren hasil jepretannya, disematkan fitur live focus pada kamera depan yang sebelumnya hadir di Galaxy Note 8 dan J7 Pro. Dengan fitur ini kita bisa menghasilkan efek bokeh saat mengambil foto ataupun setelahnya. 

Selain itu, kamera A8 juga punya teknologi baru bernama Tera-cell. Adanya teknologi ini menjanjikan kemampuan menghasilkan foto yang lebih terang dalam kondisi rendah cahaya serta fitur Video Digital Image Stabilization (vDIS) untuk menghasilkan rekaman video menjadi lebih stabil dan jelas meski sedang merekam dalam keadaan bergerak.

Kedua ponsel ini dilengkapi sensor sidik jari yang ditempatkan di bagian belakang bodi, dibuat tahan air dan debu. Selain itu duo Galaxy A8 turut mendukung Samsung Pay dan Gear VR. Tak ketinggalan dilengkapi asisten digital Bixby, tersedia slot untuk dua SIM Card, serta tersedia slot microSD yang mendukung hingga 256 GB.

"Kami sengaja tidak memposisikan Galaxy A8 sebagai ponsel selfie, tetapi kita ingin menawarkan total camera experience. Selfie itu hanya bagian kecil dari camera experience. Dan untuk target user A8 ini merupakan orang yang sudah mulai naik kelas, ya tidak apa-apa untuk personal use mereka masih foto dengan kamera depan, tetapi untuk postingan di sosmed mereka gak terus main-main di situ," kata Jo. 

Dengan mem-branding A8 dengan selfie phone justru dianggap Samsung akan menurunkan kelas perangkat ini. Sebab sejatinya kemampuan A8 lebih jauh dari sekadar menjepret muka sendiri. 

"Orang juga lama-lama menangkap soal kemampuan kamera depan A8, jadi biar jalan organik sendiri, kita gak mau berkoar-karena itu (selfie-red.) bukan pre-position A8. Karena orang-orang ini (target pasar A8-red.) tidak mau dianggap sama dengan mereka yang cuma selfie-selfie aja. A8 targetnya milenial, khususnya milenial yang concern dengan visual, experience dan petualangan," Jo menandaskan.    (dtk)

.