Elektabilitasnya Progress, Ridwan Kamil Digunjing Kampanye Hitam

©

Transbogor.co -  Kampanye hitam yang menyebutkan bahwa Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendapatkan dukungan komunitas LGBT pada Pilgub Jabar 2018, aneh dan tidak masuk akal.

Begitu dikatakan Direktur Lingkar Studi Informasi dan Demokrasi (eLSID), Dedi Barnadi dalam keterangannya.

"Logikanya sederhana, komunitas LGBT ini tertutup dan menghindari publisitas. Tapi dalam konteks pilgub, mereka tiba-tiba muncul dan mengaku mendukung Ridwan kamil dan Uu," sambungnya.

Catatan elSID 2016 lalu, Ridwan Kamil pernah disebut oleh komunitas LGBT sebagai kepala daerah yang
pernyataannya mendiskriminasi kelompok LGBT. Akibatnya, komunitas LGBT yang tergabung dalah Forum LGBTIQ tersebut menuntut Ridwan Kamil dan beberapa pejabat lainnya seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Ketua MPR Zulkifli Hasan dan masih banyak lagi.

Karenanya, kata Dedi, sangat aneh jika kemudian sekarang komunitas LGBT itu seolah-olah malah mendukung pasangan Kang Emil dan pasangannya Uu Ruzhanul Ulum.

Menurutnya, sebelum Ridwan Kamil maju sebagai Cagub Jabar, ada beberapa pihak yang sudah menghembuskan kampanye hitam tentang LGBT ini.

"Dan secara tegas Ridwan Kamil mengatakan tak mendukung LGBT, malah akan membersihkan perilaku LGBT tersebut di kota Bandung," terangnya.

Dedi melihat ada agenda tertentu di balik kabar dukungan ini. "Kita tahu, dari beberapa survei yang ada pasangan Rindu mempunyai elektabilitas paling tinggi dari pasangan-pasangan lainnya. Saya curiga, kampanye hitam ini bertujuan untuk menggerus elektabilitas tersebut," katanya.

Dari survei Indo Barometer, pasangan Rindu memiliki elektabilitas paling tinggi yakni mencapai 44,8 persen. Sedangkan dari survei Indonesia Strategic Institute (Instrat), elektabilitas pasangan Rindu berada di posisi teratas dengan 25,6 persen kemudian diikuti Duo DM dengan 24,1 persen. Sementara pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) di posisi ketiga dengan 2,1 persen dan pasangan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan berada di posisi buncit dengan 1,9 persen.

Dedi juga meminta masyarakat terus waspada mengenai kampanye hitam tersebut. Kampanye hitam ini akan tetus dilancarkan oleh pihak tertentu bukan hanya isu LGBT tapi juga dengan isu hitam lainnya.

"Dan saya berharap  pilgub Jabar ini bisa berjalan dengan santun dan mendidik tidak dengan cara-cara hitam. Saya juga yakin masyarakat Jawa Barat sudah cerdas dan tidak mudah percaya akan kampanye hitam," jelasnya.

Wakil Ketua Tim Pemenangan Rindu, Arfi Rafnialdi, menjelaskan, pada prinsipnya semua warga Jabar mempunyai hak untuk politik untuk menentukan pilihannya di pilgub.

"Namun, sampai hari ini ini tidak pernah ada komunikasi kami dengan komunitas LGBT baik melalui Rumah Pemenangan Rindu atau simpul-simpul relawan di semua kabupaten/kota. Jika deklarasi dukungan tersebut merupakan bagian dari kampanye hitam, kami tentu menyesalkan dan meminta cara-cara kotor seperti ini dihentikan," demikian Arfi. (rmol)

.