Kolam Retensi Sirnaraga Jadi Prioritas Pemkot Bandung

©

Transbogor.co - Pemerintah Kota Bandung akan membangun kolam retensi di Sirnaraga untuk mengurangi potensi banjir di hilir Sungai Citepus. Untuk cakupan Kota Bandung, masih diperlukan 15 kolam retensi untuk mengurangi resiko banjir.

Kepala Bidang Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung Tedi Setiadi mengatakan, kolam retensi Sirnaraga hanya satu dari sejumlah cara penanganan banjir hasil luapan Sungai Citepus. Pertimbangan DPU Kota Bandung memprioritaskan Sirnaraga karena dampak banjir terparah berasal dari Sungai Citepus hilir.

“Yang prioritas sekali itu kolam retensi Sirnaraga. Kolam retensi itu idealnya dibangun seluas 1.000 meter persegi. Tapi berapa pun ada lahan tanahnya kita kerjakan demi mengurangi banjir di Kota Bandung,” kata Tedi.

Seperti diketahui, Kecamatan Astanaanyar menjadi wilayah terdampak banjir paling buruk saat hujan deras mengguyur Kota Bandung, Kamis, 22 Februari 2018 malam. Sekurangnya 200 kepala keluarga menderita karena ratusan rumah yang mereka huni diterjang derasnya banjir.

Banjir kali ini dianggap banjir paling buruk yang pernah mereka alami. Diduga akibat derasnya debit air pasca proyek percepatan aliran air di saluran Sungai Citepus via cross drain Jalan Pasteur dan penambahan saluran lewat basement air Jalan Pagarsih rampung belum lama ini.

Dari seribu meter persegi lahan Pemkot Bandung di Sirnaraga pun belum seutuhnya siap. Terdapat sejumlah pemakaman yang berada tepat di lokasi rencana kolam retensi.

Maka, lahan 500 meter persegi yang bisa digunakan akan mulai dimanfaatkan untuk kolam retensi mulai April 2018 dan ditargetkan selesai selama 6 bulan.

Meskipun hanya setengah dari luas ideal, kata Tedi, kolam itu setidaknya bisa menampung air hingga 1 juta liter. Dengan biaya Rp 9.3 miliar, kolam akan dibangun dengan kedalaman 3 meter. Harapannya luapan air dari Kabupaten Bandung Barat bisa diparkir di kolam tersebut.

Parkir air itu ditargetkan bisa mengurangi dampak di Sungai Citepus hilir yang selama ini membuat derita bagi warga Pagarsih, dan yang terbaru warga Astanaanyar.

“Target asalanya 1000 meter persegi. Tetapi dengan kondisi yang ada, mau tidak mau kita laksanakan setengahnya April ini karena belum tersedia lahannya,” katanya.

Ruang publik
Kolam retensi Sirnaraga nantinya bisa digunakan sebagai ruang publik warga sekitar, atau sarana olah raga. Tedi menuturkan, kolam retensi ini hanya satu bagian penanganan Sungai Citepus. Idealnya ada kolam retensi di wilayah Astanaanyar untuk menampung pertemuan aliran dari Sungai Citepus dan Sungai Cikakak.

Selain membangun kolam, DPU Kota Bandung juga akan membuka kembali sungai yang telah lama mati. Normalisasi sungai itu akan membuat sirip bagi air agar terbagi dan memecah volume air yang dialirkan ke hilir.

“Di Bandung ada 46 anak sungai, yang rawan banjir itu ada 15 lokasi, seperti Cibaduyut perbatasan, Adipura Gedebage. Kolam retensi itu untuk menampung air dan dicegah masuk ke kota. Tata guna lahan sudah begitu sempitnya, air mau lair ke mana?” ujarnya.

Soal bangunan melampaui batas izin mendirikan bangunan dan menyempitkan ruang sungai menjadi sorotan. Dalam aliran Sungai Citepus antara kawasan Pasteur dengan Pagarsih, banyak perluasan bangunan ilegal yang mempersempit sungai dari lima meter menjadi dua meter.(pr)

.