PDIP Sepakat Usung Jokowi, Prabowo Diprediksi Jadi Lawan Tersulit Lagi

©

 

Transbogor.co - KPU akan membuka pendaftaran calon presiden-wakil presiden Pemilu 2019 pada Agustus tahun ini. PDIP sudah resmi mengusung Joko Widodo (Jokowi) untuk maju kembali di pentas pertarungan Pilpres. Pencalonan Jokowi mendapat dukungan dari PPP, Hanura, Golkar, dan Nasdem.

Pada Pemilu legislatif 2014, total perolehan suara lima partai itu mencapai 52,2 persen dari pemilih yang mencapai 124 juta. Di atas kertas Jokowi akan menang mutlak. Alasannya dengan asumsi hasil Pemilu 2019 tidak berbeda jauh dengan yang sebelumnya dan korelasi positif antara Pemilu legislatif dan Pemilu presiden

Namun, bukan berarti tidak ada perlawanan sama sekali dari lawan politik Jokowi. Sosok Prabowo Subianto masih menjadi pesaing terkuat buat Jokowi. Bisa jadi, Pemilu 2019 mengulang apa yang terjadi pada Pemilu 2014. 

"Sampai saat ini menurut saya masih Prabowo pesaing terkuat Jokowi," kata peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandez kepada Tirto, Kamis (1/3/2018).

Gerindra memang telah memberikan mandat pada Prabowo menjadi calon presiden 2019 pada Konsolidasi Nasional pada April tahun lalu. Namun, menurut Ketua DPP Gerindra, Nizar Zahro, sampai saat ini pendeklarasian mantan Danjen Kopassus itu masih menunggu waktu yang tepat. 

"InsyaAllah semua akan kami lalui dan akan kami umumkan ke publik," kata Nizar kepada Tirto. 

Nizar memperkirakan waktu pendeklarasian akhir Maret atau awal April 2018.

Gerindra juga tengah mengusahakan agar partai yang belum menentukan sikap untuk merapat. Koalisi yang kuat jadi syarat mutlak agar "perlawanan" jilid kedua Prabowo terhadap Jokowi bisa maksimal. 

"Sekarang masih lima [partai] yang belum memberikan dukungan kepada Jokowi. [Partai-partai] ini saya harap bisa memberikan dukungan ke Prabowo," kata Wakil Ketua DPP Gerindra, Fadli Zon, di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018).


Adu Kuat Prabowo-Muhaimin Lawan Jokowi

Jokowi dan Prabowo Subianto belum menentukan siapa calon wakil presiden mereka. Namun Jokowi relatif berada di atas angin karena statusnya sebagai petahana. Jokowi juga selalu menempati posisi tertinggi dalam berbagai survei. Jokowi harusnya lebih mudah mencari calon wakil presiden ketimbang rivalnya. Prabowo memang harus lebih hati-hati menentukan siapa pendampingnya pada Pilpres. 

Menurut dosen Ilmu Politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, satu nama yang dapat diperhitungkan adalah Muhaimin Iskandar. Mantan Menteri Tenaga Kerja ini "bisa memecah koalisi partai Jokowi yang terbangun selama lima tahun ini."

PKB, partai yang dipimpin Muhaimin, adalah salah satu partai yang bergabung bersama PDIP dalam Koalisi Indonesia Hebat. Namun, sejauh ini PKB belum menentukan sikap pada Pemilu 2019. 

Muhaimin dirediksi dapat meningkatkan elektabilitas Prabowo. Alasannya, dengan menggaet Muhaimin, maka massa PKB dan Nahdlatul Ulama yang selama ini cenderung melabuhkan dukungan ke Jokowi bisa jadi pindah haluan. 

Muhaimin telah terang-terangan menyatakan diri maju sebagai calon wakil presiden. Prabowo akan lebih mudah mendekati keponakan Gus Dur itu dan menawarkan posisi yang memang telah diincarnya.


Proyeksi pasangan Prabowo-Muhaimin bisa jadi bakal terwujud dari kerja sama mereka dalam politik elektoral tahun ini. Di Pilkada Jawa Timur, koalisi Gerindra-PKB mengusung Syaifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno, sementara di Jawa Tengah mereka mencalonkan pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Menurut Adi, kemenangan pada dua provinsi itu dapat menjadi kunci dan penentu koalisi Prabowo-Muhaimin. Memenangkan pilkada di dua provinsi itu dapat lebih memuluskan koalisi keduanya. 

"Kalau Cak Imin (Muhaimin) jadi sama Prabowo, berarti harus memperbesar basis di Jatim dan Jateng, salah satunya ya lewat pilkada itu," kata Adi.

Partai terdekat Gerindra, PKS dan PAN, nampaknya juga tidak bakal menolak koalisi tersebut. "Semangat mereka sama: untuk mengubah kepemimpinan nasional. PKS dan PAN ini prinsipnya siapa yang dapat mengalahkan Jokowi akan didukung gitu," kata Adi. 

Apa yang dikatakan Adi sesuai dengan pernyataan Presiden PKS, Sohibul Iman, Kamis (1/3) kemarin. Pria kelahiran Tasikmalaya pada 5 Oktober 1965 itu mengatakan partainya terbuka dengan opsi Prabowo-Muhaimin. Bahkan ia mengaku sudah bertemu dengan utusan Muhaimin untuk membahas ini.

"Kemarin, beberapa hari lalu, Marwan Jafar dari PKB datang ketemu saya. Mengajak berbicara dan katakan dia diutus oleh Muhaimin," kata Shohibul usai bertemu dengan Prabowo.

.