Tarif Retribusi Parkir Bahu Jalan Masih Dikaji Pemkot Bogor

©

Transbogor.co - Besaran perubahan tarif retribusi parkir di bahu jalan masih dalam proses pembahasan pemerintah Kota Bogor hingga hari ini.

"Saya belum dengar ada kenaikan retribusi parkir, kemarin waktu rapat dengan Dishub memang dibahas akan ada perubahan SK walikota tentang itu," ujar Usmar Hariman.

Usmar pun menjelaskan untuk retribusi jasa khusus seperti parkir di bahu jalan memiliki ketentuannya sendiri.

"Konsep utama kita adalah bagaimana kita retribusi itu bisa ditekan sekecil-kecilnya, karena pada hakekatnya badan jalan tidak boleh untuk parkir," ungkap Usmar.

Menurutnya, semakin kecil retribusi parkir bahu jalan yang disumbangkan ke pendapatan asli daerah (PAD), menunjukkan bahwa program pemanfaatan badan jalan lebih maksimal.

"Nah kalau itu semakin besar berarti semakin padat badan jalannya, itu aja indikatornya," kata Usmar.

Lain halnya dengan pajak parkir yang dikenakan kepada pengelola parkir di gedung parkir, pusat pertokoan, instansi dan lain sebagainya.

"Kalau pajak parkir wajib diambil 25 persen dari pengelola parkir, itu undang-undang yang bicara," pungkasnya.

Salah satu area yang diterapkan tarif retribusi yaitu Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) hingga Lawang Suryakencana.

Sepanjang jalur dengan Sistem Satu Arah (SSA) itu menjadi kawasan rawan kemacetan sesuai Surat Keputusan (SK) Walikota Bogor.

"Sehingga ada strata pembagian berdasarkan radius, mulai Pasar Bogor sampai dengan 200 meter arah ke Suryakencana itu tarifnya diangka Rp 6 ribu sekali parkir, lalu 200 meter setelahnya itu angkanya Rp 3 ribu sampai Rp 6 ribu, jadi makin jauh makin murah untuk kendaraan roda empat," kata Usmar memaparkan. (trb)


 

.