50 Proyek Infrastruktur Ditawarkan ke Investor Hongkong

©

Transbogor.co -  Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) mengidentifikasi 50 proyek infrastruktur di Indonesia akan ditawarkan ke investor asal Hong Kong sejalan dengan program Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan (One Belt One Road-OBOR).

Ketua HKTDC Vincent Lo mengatakan proyek infrastruktur itu berkaitan dengan jalanan, jembatan, dan transportasi massal. Namun, ia enggan menjelaskan potensi investasi yang bisa dikucurkan oleh investor dari Hong Kong dan China ke Indonesia dari 50 proyek infrastruktur tersebut.

"Investasi proyek infrastruktur kan besar, makanya kami bawa delegasi yang datang ke Indonesia perusahaan besar, seperti Bank HSBC. Kemudian, ada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Hong Kong juga," papar Vincent.

Lebih lanjut ia menjelaskan proses penawaran investasi di Indonesia oleh HKTDC ini juga dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"Diorganisir oleh HKTDC, bekerja sama juga dengan Shanghai Federations of Industry and Commerce, delegasi ini terdiri dari 40 investor," jelas Vincent.

Puluhan investor itu berasal dari berbagai latar belakang keahlian, di antaranya keuangan, konsultasi, arsitektur, energi, pengolahan air dan sampah, konstruksi dan insinyur, hukum, dan transportasi.

Vincent memaparkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukan kebutuhan dana untuk membangun infrastruktur sejumlah negara membutuhkan dana hingga US$71 triliun sampai 2030 mendatang.

"Setengah dari itu akan masuk ke OBOR akan menerima investasi infrastruktur US$2 triliun-US$3 triliun per tahun," tutur Vincent.

Secara terpisah, Ketua BKPM Thomas Lembong mengatakan nota kesepahaman tersebut juga bertujuan untuk mempromosikan perdagangan dan pariwisata Indonesia di kedua negara, Hong Kong dan Indonesia.

"Dalam tujuh tahun terakhir pertumbuhan investasi dari Hong Kong dan Tiongkok naik sangat tajam," kata Lembong.

Menurutnya, jumlah investasi Hong Kong dan Tiongkok bila digabungkan mencapai US$2 miliar per tahun. Jika dalam tujuh tahun bisa dijaga dengan pertumbuhan 10 persen, maka jumlah investasi dari Hong Kong dan China akan naik dua kali lipat.

"Sekarang yang sedang dikembangkan ada empat titik fokus, yaitu Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sumatra Utara, dan Bali," ucap Lembong.

Ia menambahkan salah satu proyek yang menjadi prioritas, yaitu pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kalimantan Utara. Beberapa investor disebut-sebut akan menginvestasikan sebagian besar dana untuk proyek tersebut.

Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambire menjelaskan jumlah investasi yang akan dikucurkan untuk pembangunan PLTA di Kalimantan Utara mencapai US$17,8 miliar dengan kapasitas 11 ribu megawatt (mw).

"Potensi di Sungai Kayan Kalimantan Utara cukup besar, kalau bisa diwujudkan maka kontribusinya sangat besar," kata Irianto. (cnn)

.