Bahas Islam Wasatiyah, 43 Negara Berkumpul di Bogor

©

Transbogor.co - Grand Syaikh Al-Azhar, Prof Dr Ahmed Mohamed Ahmed Altayeb, tiba di Jakarta pada Ahad malam (29/04/2018). Syeikh Al-Azhar datang bersama lebih dari 20 orang pendamping. Antara lain, Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Husin Abdelaziz Hassan.

Kedatangan Syeikh Al-Azhar ke Indonesia dalam rangka menjadi pembicara kunci dalam kegiatan High Level Consultation of World Muslim Scholars On Wasatiyyat Islam (HLC-WMS) yang dilaksanakan di Bogor pada 1-3 Mei.

Selain Syaikh Al Azhar, para tokoh agama, mufti dan cendekiawan dari berbagai negara akan turut hadir. Total diperkirakan akan ada perwakilan dari 43 negara yang hadir dalam acara ini.

Antara lain Indonesia, Mesir, UEA, Kuwait, Lebanon, Suriah, Algeria, Singapura, Filipina, India, Bangladesh, Cina, Australia, Prancis, Kanada, Amerika Serikat, Brunei Darussalam, Jepang, Thailand, Malaysia, Arab Saudi, Uzbekistan, Inggris, Rusia, Iran, Timur Leste, Srilanka, Palestina, Bosnia dan Herzegovina, Yordania, Nigeria, Afrika Selatan, Oman, Afghanistan, Pakistan dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden RI Untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Prof. Dr. M. Din Syamsuddin mengantarkan undangan secara langsung kepada Grand Syeikh di Kairo, Mesir pada 9 Maret lalu. Kehadiran Syeikh Al-Azhar cukup bermakna penting bagi Indonesia. Selama ini, dirinya telah memberikan perhatian besar kepada Indonesia.

“Imam Besar Syaikh Thoyyib diundang untuk menghadiri acara HLC tersebut, karena tema besarnya sesuai dengan nilai-nilai penting dalam manhaj Al-Azhar, Wasathiyah Islam,” Din menjelaskan.

HLC-WMS akan membahas mengenai Wasathiyah Islam, mulai dari tataran konsepsi, implementasinya dari masa ke masa sejak zaman Nabi Muhammad, pengalaman Indonesia mengimplementasikan Wasathiyah Islam, serta tantangan dan peluang Wasathiyah Islam dalam peradaban global.

UKP-DKAAP, Din Syamsuddin menjelaskan, sebelum pelaksanaan HLC-WMS, diadakan empat kali halaqah mengenai Islam Wasathiyah dengan mengundang para pakar. Kemudian, dilanjutkan dengan dua kali symposium di Surakarta dan Jakarta untuk mempersiapkan buku mengenai Islam Wasathiyah yang akan dibahas dalam HLC-WMS.

Buku tersebut disusun oleh steering Committee yang diketuai oleh Azyumardi Azra dibantu oleh Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Di dalam buku dibahas mengenai konsepsi Islam Wasathiyah, implementasinya dari masa ke masa sejak zaman Nabi Muhammad, pengalaman Indonesia mengimplementasikan Islam Wasathiyah, serta tantangan dan peluang Islam Wasathiyah dalam peradaban global.

“HLC-WMS akan melahirkan Bogor Message, dokumen penting yang bisa menjadi acuan umat manusia dalam mengembangkan peradaban melalui prinsip jalan tengah,” jelas Din Syamsuddin.

Kehadiran para ulama dan tokoh cendikiawan dunia dalam forum HLC-WMS juga dapat menjadi peluang mempromosikan konsep Wasathiyah Islam yang berkembang di Indonesia. Dirinya optimis konsep Islam Wasathiyah ala Indonesia dapat menjadi model di dunia untuk menyelesaikan permasalahan global.

Dalam buku yang akan dibedah dalam HLC-WMSada beberapa tawaran yang disodorkan oleh Indonesia. Pertama, mengenai konsepsi Islam Wasathiyah. Selama ini, beberapa negara lain seperti Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Malaysia juga memiliki gerakan Islam Wasathiyah. Tetapi, ada perspektif lain yang ditawarkan oleh Indonesia.


Kedua, pengalaman Indonesia menerapkan Islam Wasathiyah memberikan tawaran mengenai fungsi agama. “Di Indonesia, peran organisasi masyarakat sipil kalangan Islam menempatkan agama berfungsi sebagai sarana teologi pembebasan dari kelaparan dan ketakutan,” pungkasnya.

.