Seperempa Warga Bogor Golput

©

Transbogor.co - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor, Jawa Barat menyatakan tingkat partisipasi warga pada Pilkada Serentak 2018 mengalami peningkatan sekitar 12 persen dibandingkan tahun 2013 lalu. Namun, 25 persen warga Bogor ternyata Golput,

"Tahun 2013 lalu tingkat partisipasi masyarakat sebesar 63 persen, tahun ini mencapai 75,37 persen, artinya ada kenaikan sekitar 12 persen dari pilkada sebelumnya," kata Ketua KPU Kota Bogor Undang Suriatna, usai rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara Pilgub Jabar dan Pilwakot Bogor 2018, Kamis (5/7/2018).

Menurut Undang, peningkatan partisipasi pemilih pilkada tahun ini salah satunya karena ada kebijakan libur nasional pada saat hari pencoblosan 27 Juni 2018.

Berbeda di tahun 2013, libur hanya berlaku di Kota Bogor, sehingga ada warga Bogor yang bekerja di luar Bogor tidak libur sehingga tidak bisa menyalurkan hak pilihnya.

"Perkiraan kami peningkatan karena hari pemungutan suara merupakan libur nasional," kata Undang lagi.

Walaupun tingkat partisipasi pemilih kali ini meningkat, tetapi tidak sesuai target yang telah ditetapkan oleh KPU Kota Bogor yakni sebesar 76 persen.

Menurut Undang, ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, salah satunya sosialisasi kepada masyarakat terlihat dari jumlah golput sekitar 25 persen, atau seperempat warga Kota Bogor tidak memilih.

Selain itu, dilihat dari jumlah surat suara pemilih sebanyak 521.765, tercatat ada sebanyak 27.444 surat suara tidak sah, sisanya 494.321 adalah surat suara sah.

Terkait surat suara tidak sah, lanjut Undang, jumlah tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai golput. Karena mereka yang golput adalah yang tidak mendatangi TPS.

Sedangkan surat suara tidak sah ada beberapa kemungkinan, seperti pemilih tidak tahu cara menggunakan hak pilih, atau ada juga yang sengaja membuat suara tidak sah. 

Bila dibandingkan tahun 2013 lalu, jumlah surat suara tidak sah relatif kecil yakni di bawah 15 persen. (glm)

.