Disia-siakan Liverpool, Suso Jadi Nyawa Permainan Milan

©

Transbogor.co - Performa AC Milan tak jarang berbanding lurus dengan performa Suso di atas lapangan.

Saat Suso tidak bermain optimal, Milan biasanya kesulitan, dan begitu pula sebaliknya. Pemain ofensif yang dianugerahi teknik bagus dan kaki kiri magis ini adalah pemain yang keberadaannya sangat vital.

Visi, operan, dribel dan long shot merupakan beberapa atribut utamanya. Dia juga memiliki kemampuan set-piece yang akurat.

Pria asal Spanyol kelahiran 19 November 1993 ini adalah seorang gelandang serang yang kreatif dan kini diakui sebagai salah satu penyerang sayap terbaik di seantero Eropa.

Dia mampu mendikte tempo permainan maupun melakukan permainan kombinasi cepat dengan rekan-rekannya. Jika dibiarkan bebas, dia akan menghukum lawan dengan gol atau assist-nya.

Suso adalah pemain brilian, yang sanggup menciptakan perbedaan dengan teniknya. Seperti seorang magician, dia mampu menciptakan 'something' dari 'nothing', dan itu membuatnya jadi pemain yang spesial.

Dia adalah pemain yang sangat berharga, terlalu berharga untuk dilepaskan.

Jesus Joaquin Fernandez Saenz de la Torre, atau lebih dikenal dengan nama Suso, lahir di Cadiz pada 1993 silam.

Di usia 11, Suso untuk pertama kalinya berlatih dengan klub sepakbola di kota kelahirannya. Dalam kurun waktu enam tahun, dia semakin berkembang dan akhirnya menjadi bintang di akademi Cadiz.

Para pemandu bakat mulai memantau Suso, baik dari klub-klub top Spanyol maupun dari luar negeri. Liverpool berhasil membawanya ke Inggris.

Suso awalnya gabung akademi Liverpool dengan status pinjaman, karena belum cukup umur untuk mendapatkan izin kerja sebagai pemain profesional. Dia akhirnya menandatangani kontrak profesional di Liverpool pada usia 17, sebelum menjuarai EURO U-19 bersama Spanyol pada 2012.

Karier Suso di Liverpool mengalami pasang surut. Talentanya diakui oleh manajer baru Brendan Rodgers, yang memberinya debut senior ketika melawan Young Boys di Liga Europa. Namun orang yang sama jugalah yang membatasi kesempatannya untuk bermain reguler di Anfield.

Pada musim panas 2013, setelah Rodgers mendatangkan Daniel Sturridge dan Philippe Coutinho, pintu Suso ke tim utama pun tertutup rapat. Suso dipinjamkan ke Almeria di La Liga. Semusim di negeri asalnya, Suso kembali ke Liverpool, tapi dia merasa kalau dia sudah tak punya masa depan lagi di sana.

Suso membiarkan kontraknya habis di Liverpool demi pindah ke klub lain. Sebelum kontraknya habis, sebuah pinangan datang dari Negeri Spaghetti.

Pada 12 Januari 2015, Suso menandatangani kontrak empat tahun dengan AC Milan. Rossoneri membayar kompensasi €1,3 juta kepada Liverpool untuk mengakhiri kontrak Suso lebih awal.

Kontrak Suso di Liverpool sejatinya baru habis Juli 2015, tapi Milan maupun pemain yang bersangkutan tak mau menunggu hingga akhir musim. Suso pun berlabuh di San Siro dan mendapatkan kesempatan untuk membangun kembali kariernya yang sempat mati.

Selama beberapa musim terakhir adalah periode yang cukup gelap dalam sejarah AC Milan. Rossoneri berulang kali gagal finis di zona Eropa di Serie A.

Musim 2014/15, bersama pelatih Filippo Inzaghi, dan Suso baru bergabung di tengah musim, Milan finis peringkat 10. Suso hanya mengukir satu assist dalam enam penampilan di semua kompetisi.

Awal karier Suso di Milan memang tak semulus harapan.

Musim berikutnya, setelah Sinisa Mihajlovic diangkat menggantikan Inzaghi, Suso gagal mendapatkan tempat di starting XI Milan. Setelah tampil hanya satu kali di Serie A, Suso dipinjamkan ke Genoa.

Bersama Genoa, Suso mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk tampil reguler. Dia pun semakin bisa menyesuaikan diri dengan sepakbola Italia. Enam gol dan satu assist diukir dalam 19 penampilan untuk Genoa di Serie A.

Itu termasuk tiga gol dalam kemenangan 4-0 atas Frosinone di Stadio Luigi Ferraris pada 3 April 2016.

Itu adalah hat-trick pertama dalam karier profesional Suso. Dia juga menjadi pemain Spanyol kedua yang mencetak hat-trick di liga tertinggi Italia, setelah Luis Suarez untuk Inter Milan ketika melawan Genoa pada tahun 1963.

Kembali ke Milan, di mana tongkat kepelatihan sudah beralih ke tangan Vincenzo Montella, peruntungan Suso berubah. Tampil mengesankan selama pramusim dan beberapa laga awal di Serie A 2016/17, Suso pun dianggap sebagai pemain penting di Milan.

Montella memercayai Suso, dan Suso tak menyia-nyiakannya.

Suso merancang gol kemenangan Manuel Locatelli ketika Milan mengalahkan Juventus untuk pertama kalinya dalam empat tahun pada Oktober 2016. Sebulan berselang, Suso juga bermain brilian dan mencetak dua gol dalam derby melawan Inter Milan yang berkesudahan 2-2.

Setelah itu, Suso pun memainkan peran krusial ketika mengalahkan Juventus lewat adu penalti di final Supercoppa Italiana.

Tujuh gol dan sembilan assist diciptakan Suso di liga. Bersama Giacomo Bonaventura, berdasarkan rating WhoScored, Suso menjadi satu dari tiga pemain terbaik Milan di Serie A 2016/17.

Musim 2017/18 kemarin, dengan enam gol dan tujuh assist-nya, Suso menjadi pemain terbaik Milan di Serie A. WhoScored memberi Suso rating 7,22, lebih tinggi dibandingkan rekan-rekannya.

Selama beberapa tahun terakhir, Milan sudah dua kali berganti pemilik dan beberapa kali berganti pelatih. Namun Suso secara konsisten semakin menegaskan keberadaannya di skuat Rossoneri. Dia sudah menjadi nyawa permainan tim.

Suso mencatatkan 13 gol dan 17 assist selama dilatih Montella. Dia pun sudah mengukir delapan gol dan tiga assist dalam 30 penampilan untuk Gennaro Gattuso, pelatih Milan yang sekarang.

Pada 25 September 2017, Milan memberi Suso perpanjangan kontrak sampai 2022. Milan rupanya tak mau kehilangan dia dalam waktu dekat.
Suso biasanya dipasang di kanan dalam skema tiga pemain depan. Namun, oleh Montella maupun Gattuso, Suso diberi lisensi serta kebebasan lebih untuk bergerak.

Suso di kanan bukan sebagai penyerang sayap biasa. Saat Milan tidak sedang menguasai bola, dia berperang seperti winger bayangan dan membantu melakukan pressing untuk mencegah lawan membangun serangan dari belakang.

Namun saat possession berada di tangan Milan, Suso bertindak sebagai 'nomor 10'. Dalam situasi ini, pergerakan Suso jadi lebih bervariasi. Dia bisa tetap di kanan dan menyisir sayap dengan dribelnya yang tajam, tapi juga bisa bergeser ke sentral guna menerima bola dan mengalirkannya ke depan untuk para penyerang.

Dia adalah pemain dengan kemampuan istimewa. Selain piawai merancang assist, Suso juga jago mencetak gol, terutama dengan tembakan-tembakan jarah jauh dan tendangan bebas.

Milan hanya membayar €1,3 juta untuk memboyongnya dari Liverpool pada Januari 2015. Sekarang, nilainya sudah melonjak tajam. Harganya saat ini berada di kisaran €35 juta sampai €40 juta, atau bahkan bisa lebih mahal.

Dia adalah pemain yang sangat berharga, terlalu berharga untuk dilepaskan.

.