MUI Temui Penyimpangan Ajaran PAI di SMP Proklamasi

  Ā©Trans Bogor/Dimas Fery
Sekum MUI Kabupaten Bogor, H. Romli Eko Wahyudi

Trans Bogor - Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor, H. Romli Eko Wahyudi, menilai SMP Proklamasi  yang berlokasi di Parung, Bogor melakukan penyimpangan dalam proses pengajaran pada para anak didik.

“Ada terjemahan Al Quran yang tidak lazim yang ditemukan dalam proses pengajaran. Kami menemukan sebuah diktat, dan setelah kami konfirmasi, memang dimiliki oleh mereka,” kata Romli., saat diminta keterangan Trans Bogor, kemarin, di kantornya.

“Diktat yang kami temukan adalah buku tambahan pegangan untuk para guru yang digunakan untuk penguatan bahan ajar kepada para siswanya dan diakui oleh mereka,” imbuhnya lagi.

Pihaknya, lanjut Romli, menemukan foto copy buku catatan dari 7 siswa. Hampir semua catatan terjemahan Al Quran menyimpang dari terjemahan yang dikeluarkan Kementerian Agama.

“Kami melihat ada penyimpangan dari materi Pendidikan Agama Islam di SMP Proklamasi Parung,” paparnya.

Terkaitan persoalan tersebut, katanya, MUI Kabupaten Bogor memberikan tiga rekomendasi kepada pihak-pihak terkait.

“Kami meminta Dinas Pendidikan  melakukan pengecekan kembali izin operasional SMP Proklamasi Parung dan lebih berhati - hati dalam memberikan izin operasional sekolah,”ujarnya.

Selain itu juga, MUI Kabupaten Bogor meminta kepada Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bogor untuk melakukan pencegahan, pengawasan, klarifikasi  dan pembinaan yang lebih itensif terhadap materi PAI di sekolah-sekolah. “Terutama guru-guru PAI yang terindikasi melakukan penyimpangan. Baru muncul satu, Kami tidak tahu apakah hal tersebut muncul di sekolah lain,” imbuhnya.

Terkait masalah tersebut pihaknya meminta Ketua MUI Kecamatan untuk melakukan kordinasi dengan Muspika dan stakeholder umat Islam lainnya untuk melakukan pencegahan, pembinaan, dan meminimalisir agar faham yang tidak sesuai dengan syariat Agama Islam tidak menyebar.

Ia meneruskan, adanya penyimpangan di SMP Proklamasi Parung Bogor, diawali dari hasil pengaduan masyarakat yang merasa resah terhadap anak didiknya.

“Mereka menemukan cara pandang yang berbeda dalam memahami terjemahan Al Quran sehingga mereka melaporkan kepada seorang tokoh agama setempat,” jelasnya.

Keresahan masyarakat ini, kata Romli, selanjutnya dilaporkan secara resmi ke MUI Kabupaten Bogor. “Setelah laporan diterima, lalu dilakukan pembahasan terhadap laporan masyarakat. Akhirnya kami panggil MUI Kecamatan Parung, pengawas Kemenag dan ulama yang ada di Parung. Kami lakukan kajian berdasarkan bukti-bukti hasil penelitan. Dari hasil kajian tersebut, MUI Kabupaten Bogor merekomedasikan kepada pihak terkait untuk melakukan tindakan.

“Supaya paham ini tidak menyebar dan meminimalisir konflik yang mungkin terjadi,” pungkas Romli.

 

 

 

Penulis : Dimas Fery

Editor : Arifin Al Jawi

.