Budi Gunawan Diduga Tampung Setoran dari Pengusaha dan Polisi

┬ębungo.newspaper.co.id
Ilustrasi

Trans Bogor - Calon Kepala Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Budi Gunawan, diduga tak hanya menerima setoran dari pihak swasta atau perusahaan, tapi juga menampung duit dari sejumlah polisi. Catatan penerimaan uang tersebut sudah dikantongi Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kemarin, komisi antikorupsi memeriksa perwira polisi yang diduga pernah mengirimkan uang kepada Budi. "Ada tiga saksi yang dipanggil untuk tersangka BG," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha, kemarin.

Mereka adalah Widyaiswara Utama Sekolah Pimpinan Polri Inspektur Jenderal Syahtria Sitepu, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri Brigadir Jenderal Herry Prastowo, dan Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Barat Komisaris Besar Ibnu Isticha. Hanya Syahtria yang memenuhi panggilan.

Syahtria bersama Budi Gunawan, Herviano Widyatama (putra Budi), dan Iie Tiara (bekas anggota staf pribadi Budi) telah dicegah bepergian ke luar negeri. Seorang penegak hukum mengatakan Syahtria terdeteksi 13 kali mentransfer total senilai Rp 1,5 miliar ketika menjabat Direktur Lalu Lintas Polda Sumatera Utara pada Agustus 2004 - Maret 2006. Ditanyai soal ini setelah diperiksa kemarin, Syahtria menolak menjawab. "Saya capek sekali. Saya capek," katanya. "Tanya ke penyidik biar bagus."

Adapun Herry Prastowo pernah mengirimkan Rp 300 juta pada Januari dan Mei 2006, ketika dia bertugas sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalimantan Timur. Sebagaimana Syahtria, Herry diduga mentransfer uang itu langsung ke rekening Budi yang bernomor 552-022-5xxx.

Transfer tersebut diduga berkaitan dengan mutasi jabatan para polisi. Kala itu, posisi Budi adalah Kepala Biro Pembinaan Karier Mabes Polri. Dalam berbagai kesempatan, termasuk saat uji kelayakan di Dewan Perwakilan Rakyat, dia menyatakan asal-usul dana di rekeningnya itu tak bermasalah.

Penegak hukum yang sama mengatakan, sejumlah perwira lain tercatat menyetorkan ratusan juta hingga miliaran rupiah. Setoran terbesar berasal dari Inspektur Jenderal Firman Gani yang pada Juni-Juli 2004 mentransfer Rp 5,5 miliar ke rekening tadi. Setelah itu, Firman memang pindah jabatan, dari Kepala Polda Jawa Timur menjadi Kepala Polda Metro Jakarta Raya.

Firman Gani wafat dua tahun lalu. Widya Suraannisa, putri sulung Firman Gani, meminta agar ayahnya tak dikaitkan-kaitkan. "Semasa beliau hidup tak pernah bercerita soal itu," katanya, pekan lalu.

Setoran dari polisi itu melengkapi sangkaan gratifikasi terhadap Budi. Dari pihak swasta dan perusahaan, Budi dan Herviano, sang anak, diduga menerima Rp 57 miliar, seperti tertera dalam laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Rekening Budi juga tercatat menampung kiriman Rp 2,25 miliar dari Iie Tiara pada 2007.

 

 

 

Sumber : kpk.go.id

Editor : Bahrul

.