Pabrik Saos Palsu Digrebek, Pedagang Mie Ayam Khawatir

©dosenkuliner.wordpress.com
Ilustrasi

Trans Bogor – Paska Polrestabes Bandung menggerebek pabrik pembuatan saus sambal dan saus tomat di Jalan Cicukang, No. 6, RT 04, RW 03, Kelurahan Caringin, Kecamatan Bandung Kulon, pada Senin, (26/1/2015), membuat para pedagang mie ayam merasa khawatir berdampak penurunan penjualan.

Diketahui pabrik yang digrebek tersebut diduga memproduksi saus sambal dan saus tomat palsu karena menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya serta pewarna tekstil yang tidak layak dan berbahaya dikonsumsi dengan merk Sinarsari, Unggul Sari, dan Indosari. Hal tersebutlah yang membuat para pedagang dan konsumen mie ayam menjadi resah.

Misalnya, Yanto (45) penjual Mie Ayam di Jalan Dra. Djulaeha Karmita, Kota Cimahi, ia mulai berhati-hati untuk membeli saos di pasaran. Tapi sebagai orang awam tidak dipungkiri tidak dapat membedakan mana saos asli dan yang palsu.

Pria dua orang anak itu sudah menjalani profesi sebagai penjual mie ayam sejak tahun 1985. Dan pasti menyediakan saos untuk para konsumen. Untuk mengantisipasi adanya saos palsu sejak dulu, Yanto selalu memakai saos dengan satu merk.

"Dari dulu pakai saos merk itu, enggak pernah ada masalah atau keluhan dari yang beli. Semua bilang enak-enak aja," tuturnya.

Saos tersebut dibelinya perbotol kaca seharga Rp 2.000, dalam sehari bisa habis 5-6 botol, tergantung penjualan yang dibelinya di pasar Kota Cimahi.

"Ada yang lebih murah, dalam kemasan plastik ada harganya Rp 500. Tapi, saya setia sama merk ini," ucapnya.

Dia menjelaskan, bahwa produk saus yang digunakannya selama ini sudah tertera izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sehingga membuat yakin bahwa saos yang digunakannya aman dikonsumsi.

"Beda sama saos yang digerebek. Bisa sih pakai saos bermerk, tapi harganya mahal. Nanti satu porsi mie ayam harganya harus berapa," katanya.

Pascapenggerebekan tersebut, diakui pria yang tinggal di Kp. Pojok, Kel. Setiamanah, Kec. Cimahi Tengah, saat ini belum terlalu berpengaruh pada usahanya, rata-rata bisa laku 50 porsi/hari.

"Kalau pendapatan tergantung rejeki, mau ada kasus apa kalau sedang laris ya alhamdulillah aja," tuturnya.

Namun, Yanto mengakui dampaknya akan segera dirasakan meski tak menggunakan saos hasil produksi pabrik yang digeberek.

"Nanti pembeli pada bertanya-tanya soal saos yang saya pakai, lama-lama jadi enggak mau pakai saos," ucapnya.

Menurut Yanto, kasus saos 'palsu' bukan kali ini saja mencuat. Dikhawatirkan, hal itu hanya akibat persaingan dagang antarprodusen saos saja. "Kalau begitu, yang kena dampak pedagang kecil seperti kami. Tidak tahu menahu soal produksi, tapi harus menanggung dampak merugi," katanya.

 

 

 

Sumber : pikiran-rakyat.com

Editor : Bahrul

.