Camat Sukamakmur, Kelarkan Sengketa Tanah

  Ā©transbogor.co/Dzulfiqar
Zaenal Ashari (kiri), Tianas (kanan), Usai Musyawarah di Kantor Desa Sukamulya

Zaenal: "Nah, sekarang sudah terlihat jelas bahwa para penjual tanah kepada Ibu (Tianas) itu fiktif. Saya hanya memediasi, tidak berhak memutuskan. Jadi saya persilahkan kepada Bapak (James) untuk bagaimana penyelesaian internalnya dengan H. Solihin (mediator)."


Transbogor.co - Mediasi sengketa tanah wilayah perbukitan Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, yang berlangsung di kantor Desa Sukamulya, Jl. AMD No. 1 akhirnya menemui titik temu. Kedua belah pihak yang bersengketa yakni Kubu Pudin dan Kubu Tianas telah mengetahui letak masalah yang menyebabkan terjadinya sengketa tersebut dan bersepakat tidak melanjutkan masalah tersebut pada ranah hukum setelah pihak mediator berjanji memenuhi hak kubu yang dirugikan.

"Nah, sekarang sudah terlihat jelas bahwa para penjual tanah kepada Ibu (Tianas) itu fiktif. Saya hanya memediasi, tidak berhak memutuskan. Jadi saya persilahkan kepada Bapak (James) untuk bagaimana penyelesaian internalnya dengan H. Solihin (mediator)." kata Camat Sukamakmur, Zaenal Ashari, kepada Tiana dan Kuasa Hukumnya James Pakhpahan di penghujung musyawarah (06/03/2015).

Mediasi sengketa tanah seluas 3 hektar itu berlangsung selama hampir 4 jam dengan menghadirkan para pihak yang bersengketa (Pudin dengan Tianas) beserta saksi (para penjual dan para mediator). Dalam kesaksiannya, Njum, seorang penjual tanah kubu Tianas, mengaku tidak memiliki bidang tanah sebagaimana disebut telah dibeli oleh Tianas melalui mediator bernama H. Solihin yang menyerahkan semua urusan pencarian lokal tanah dan pengurusan surat/dokumen kepada Endang.

"Nggak (punya). Saya mah ya kata Endang itu tanah saya" aku Enjum saat ditanya pimpinan musyawarah, Zaenal Ashari, apakah benar Njum memiliki tanah di lokasi tersebut sebelumnya.

Sontak, Zaenal beserta seluruh peserta musyawarah pun terbahak mendengar pengakuan Njum. Berdasar pengakuan Njum tersebut, Zaenal pun menanyakan upah yang Njum terima dalam proses penipuan dengan modus jual tanah tersebut.

"Ooo jadi Mang njum mah cuma jadi kuli teken gitu yah? Mang dikasi berapa ama Endang?" tanya Zaenal kemudian.

Menanggapi pertanyaan itu, Njum pun tampak kikuk-sulit memberi jawaban.

Setelah mendengar kesaksian para pihak selama 4 jam, mediasi sengketa tanah pimpinan Camat pun mendapati kesimpulan bahwa para penjual kubu Tianas adalah penjual fiktif yang tidak memiliki tanah dilokasi yang disengketakan. Tanah seluas 3 hektar di wilayah perbukitan Desa Sukamulya yang dimiliki Tianas sejak 2011 ternyata adalah tanah yang dibeli dari orang-orang fiktif.

Sementara itu, James Pakhpahan, kuasa hukum Tianas, menyatakan pihaknya dapat mengerti situasi ini dan memberi tenggang waktu dua minggu pada H. Solihin beserta timnya untuk menyelesaikan hak kliennya.

"Saya masih bisa bersabar, sekarang saya minta pada H. Solihin untuk bisa memenuhi hak kami berupa tanah seluas 3 hektar dalam waku 2 minggu. Sanggup?" kata J. Pakhpahan.

Menyambut permintaan tersebut, H. Solihin pun menyanggupi, "Ya saya sanggup, saya juga tertipu oleh mereka," jawab H. Solihin.


 

Penulis: Dzulfiqar

.