Rizaldi Kritisi Tolak Ukur Green City

  Ā©transbogor.co/Dimas Ferry
Rizaldi Noer, Executive Director CCROM-SEAP

Rizaldi: “Kerjasama riset yang dilakukan antara NIES Jepang dan IPB dalam mengembangkan sistem monitoring, data-data statistik bisa digunakan,”


Transbogor.co - Realisasi Peraturan Presiden No. 61 tahun 2011, dimana setiap daerah diharapkan membuat rencana aksi mitigasi atau penurunan gas rumah kaca terlihat dari banyak kota dan kabupaten di Indonesia yang telah berkomitmen mengembangkan Green City atau Eco City. Namun indikator pencapaiannya tidak pernah dijelaskan secara terukur.

“Kerjasama riset yang dilakukan antara NIES Jepang dan IPB dalam mengembangkan sistem monitoring, data-data statistik bisa digunakan,” kata Executive Director Centre for Climate Risk and Opportunity Management in Southeast and Asia Pasific (CCROM - SEAP) IPB, Rizaldi Noer, Senin (09/03/2015).

Rizaldi mengemukakan, dalam  Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup No. 15/2013 tentang Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi (MRV), Indonesia sebagai salah satu penandatangan perubahan iklim, wajib melaporkan secara periodik tingkat pencapaian penurunan emisi yang dilakukan oleh pemerintah melalui upaya-upaya pelaksanaan mitigasi.

“Sistem pengembangan yang kami lakukan, membantu Pemkot Bogor mengimplikasikan Permen LH No. 15 Tahun 2013,“ tandasnya.

Khusus Kota Bogor, ada beberapa titik yang akan dijadikan sampel mulai dari perumahan, perkantoran dan hotel. Dari sampel ini, pihaknya bisa mengamati perilaku manusia.

“Dari fasilitas alat yang ada, semua tergantung karestertik sistem yang sudah diamati. Dari sana kami bisa menggunakan data tersebut untuk digunakan sebagai verifikasi penggunaan energi yang selama ini sudah kami laporkan melalui pengamatan data secara data lebih akurat,” pungkasnya.


 

Penulis: Dimas Ferry

Editor: Dzulfiqar

.