Eksekusi Mati Molor, Jokowi Bisa Dicap Tak Tegas

©hidayatullah.com
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo

Yunarto Wijaya : “Tak ada sesuatu yang luar biasa dari Pak Jokowi karena hukuman mati. Sebagian besar publik akan merasa Pak Jokowi akan lebih tegas, tapi hukuman mati itu seperti pisau bermata dua.”


Transbogor.co – Terkait masalah molornya eksekusi mati gembong narkoba season II, Pengamat Politik, Yunarto Wijaya, mengatakan Jokowi bisa dicap sebagai orang yang tidak tegas karena masalah tersebut. Ia pun menyatakan tidak ada yang luar biasa dari Jokowi karena hukuman mati.

Hal tersebut diungkapkan pada acara diskusi “Mewujudkan kedaulatan Bangsa Melalui Resolusi Diplomasi”, di Gedung H, Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jalan Kyai Tapa, grogol, Jakarta Barat, Selasa, (10/3/2015).

"Tak ada sesuatu yang luar biasa dari Pak Jokowi karena hukuman mati. Sebagian besar publik akan merasa Pak Jokowi akan lebih tegas, tapi hukuman mati itu seperti pisau bermata dua," ujar Yunarto.

Ia meneruskan, dengan adanya masalah eksekusi mati ini pun Jokowi harus menghadapi perlawanan dari para aktivis HAM dan dicap sebagai pemimpin yang tak humanis. Penundaan ekskusi juga dimanfaatkan sejumlah pihak untuk menyatakan Jokowi tidak tegas.

"Dalam situasi seperti ini kalau tidak dikelola dengan baik, efeknya tak baik buat Pak Jokowi. Saya lebih melihat main isu dari bandar narkoba ini adalah eksekusi hukuman matinya. Padahal isu utamanya itu darurat narkoba. Saya tidak melihat darurat narkoba sudah menjadi kampanye masif dari Pemerintahan Jokowi," jelas Yunarto.

"Pak Jokowi juga kurang baik jumlah kosakatanya dibanding Pak SBY. Jokowi kekurangan kosakata. Dan itu yang seringkali menjadi gorengan di media. Walaupun kita tahu media akan mengejar terus Pak Jokowi karena itu," lanjutnya.


 

Sumber : detik.com

Editor : Bahrul

.