Kenang Lee Kuan Yew, Hidayat Nur Wahid Tabur Pujian

©theatlantic.com
Lee Kuan Yew

Hidayat: "Beliau berani bertemu dengan orang lain. Dengan cara itu beliau bisa menyaring gosip dan informasi yang terbaik dalam membuat kebijakan,"


Transbogor.co - Mantan Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, sanjung Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, sebagai tokoh yang menerapkan diplomasi langsung yang efektif dalam kolektifitas data untuk membuat suatu kebijakan.

"Beliau berani bertemu dengan orang lain. Dengan cara itu beliau bisa menyaring gosip dan informasi yang terbaik dalam membuat kebijakan," katanya seperti dikutip dari tempo.co

Penilaian tersebut didapat mantan Presiden PKS ini dari perbincangan dengan Lee pada 2009 silam. Dalam peretemuan tersebut, Hidayat meyakini, Lee memiliki kecurigaan pada PKS sebagai partai yang membawa semangat eksklusifitas beragama.

"Ada kesan yang ia tangkap dari persepsi publik ketika itu," ujarnya.

Namun, menurut Hidayat, kecurigaan itu disampaikan Lee dengan cara yang sangat diplomatis. Lee sama sekali tidak menyinggung langsung topik masalah dengan cara yang vulgar. Momen pertemuan Lee dengan Hidayat pada 2009 itu Lee gunakan untuk menggali rasa ingin tahunya.

"Saat itu Lee bertanya bagaimana masa depan Indonesia dan Asia Tenggara jika PKS kelak memenangi pemilu di Indonesia," ujar Hidayat mengenang ucapan Lee.

Hidayat mengaku sangat tersanjung dengan kepedulian Lee terhadap partai yang pernah ia pimpin. Kepada Lee, Hidayat mengatakan kecurigaan terhadap PKS sebagai partai eksklusif yang anti demokrasi dan anti toleran bukanlah garis politik PKS.

"Yang Anda takutkan tidak pernah ada. Buktinya, kemenangan yang kami peroleh di Jakarta dan Halmerah Selatan pada 2009 tidaklah serta merta melahirkan produk-produk kebijakan yang eksklusif," kata Hidayat meniru ucapannya pada pertemuan 2009 lalu.

Bahkan, semasa menjabat sebagai Ketua MPR, Hidayat mengaku tidak pernah membawa agenda terselubung yang bertujuan membelokkan dasar negara. "Justru sayalah yang mendorong program sosialisasi pilar bernegara jauh sebelum Taufik Kiemas (almarhum, Ketua MPR 2009-2014)," tukasnya kala itu.


 

Sumber: Tempo.co
Editor: Muhammad

.