Diperdebatkan, Jimly Ungkap Plus Minus UN

  ¬©Transbogor.co/Dimas Ferry
Mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 1993, Jimly Asshiddiqie saat ditemui Transbogor.co, Minggu (12/4/2015).

Jimly: “Apakah sebagai sarana untuk kelululusan atau evaluasi kebijakan? Sebaiknya UN sebagai bahan evaluasi kebijakan saja."


Transbogor.co - Ditengah perdebatan UN, Mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 1993, Jimly Asshiddiqie, ungkap sisi baik dan buruk Ujian Nasional.

Seolah menyepakati ujian sebagai momok, Jimly menilai pola ujian yang diterapkan kepada siswa dan mahasiswa saat ini, memiliki dampak buruk terhadap perkembangan para siswa.

“Ujian-ujian yang ada, sangat membebani dan mahasiswa tidak tumbuh secara alamiah,” kata Jimly, Minggu (12/4/2014), ketika diminta pendapatnya terkait Ujian Nasional yang akan dihelat Senin esok (13/4/2015).

Lebih lanjut ia mengatakan, hingga kini UN masih menjadi bahan perdebatan. “Apakah sebagai sarana untuk kelululusan atau evaluasi kebijakan? Sebaiknya UN sebagai bahan evaluasi kebijakan saja. Sehingga urusan kelulusan diserahkan kepada perguruan tinggi yang mau menerima,” ujarnya.

Namun Jimly tidak menampik sisi positif UN sebagai upaya penyeragaman kualitas dan standart mutu pendidikan nasional. “Kita masih memerlukan adanya instrumen penyatu berupa adanya sistem UN. Jika standart seluruh Indonesia sudah sama, mungkin harus dievaluasi kembali dan tidak perlu lagi adanya UN,” tandasnya.

“Apa boleh buat, UN kita ikuti dulu saja. Sampai standart seluruh Indonesia sama,” pungkas Jimly.



Penulis: Dimas Ferry
Editor: Muhammad

.