Eksekuti Mati Terpidana Narkoba Tahap ke-II adalah Bentuk Perampasan Kemerdekaan

  Ā©Transbogor.co/Dimas Ferry
Pengamat Hukum Universitas Pakuan Bogor, Bintatar Sinaga

Pengamat: “Seolah-olah dua kali dihukum. Di rampas kemerdekaannya sekian tahun lalu ditambah dieksekusi-dirampas nyawanya.”


Transbogor.co - Pengamat Hukum dari Universitas Pakuan Bogor, Bintatar Sinaga menilai, terlalu lamanya waktu pelaksanaan eksekusi mati adalah bentuk perampasan kemerdekaan para terpidana mati.

“Saya tidak setuju jika orang yang dijatuhi pidana mati terlalu lama menunggu dieksekusi. Seolah-olah dua kali dihukum. Di rampas kemerdekaannya sekian tahun lalu ditambah dieksekusi-dirampas nyawanya,” tukas Bintatar kepada Transbogor.co, Rabu (29/4/2015).

Dengan terlalu lamanya eksekusi, rasa sakit si korban atau keluarga korban sudah hilang. “Bukan lagi rasa sakit, yang ada malah rasa kasihan. Jadi sudah tidak ada gunanya eksekusi mati,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, pemerintah telah mengeksekusi mati delapan orang terpidana kasus narkoba di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa dini hari (28/4/2015) kemarin.



Penulis: Dimas Ferry
Editor: Muhammad

.