Bahaya Mengintai Saat Tertidur

  Illustrasi

Dalam dunia kesehatan khususnya keperawatan, bicara soal tidur merupakan kebutuhan dasar  manusia yang amat penting, baik secara fisiologis maupun psikologis (kejiwaan), sebab dalam keadaan tersebut metabolisme tubuh sedang beristirahat dan melakukan tugasnya membuang kotoran dalam tubuh, setelah seharian beraktivitas.

Mengingat demikian, maka betul-betul perhatikan pola tidur Anda, juga kebiasaan yang Anda lakukan ketika hendak tidur, jika demikian bukan tidak mungkin kebiasaan tersebut akan mengintai kesehatan Anda secara bertahap, hingga akhirnya kemungkinan besar bisa mengancam kesehatan secara serius. Berikut beberapa hal yang menjadi kebiasaan saat tidur, tetapi tidak baik bagi kesehatan Anda:

1. Penggunaan Kipas Angin

Cuaca yang kerap kali cenderung panas di beberapa wilayah, terutama di kota-kota besar dengan jumlah pohon membuat lingkungan semakin gersang, membuat siapa saja  menjadi kepanasan, tidak hanya di siang hari, kadangkala di malam hari pun demikian.

Berbagai cara orang lakukan agar tidak merasa kepanasan, seperti memasang air conditioner (AC), kipas angin, atau cara lainnya. Apalagi saat tidur, seseorang pasti membutuhkan kenyamanan. Bagi sebagian orang memilih menggunakan kipas dengan hembusan angin yang cukup kencang ke arah tubuhnya, dengan begitu mereka akan merasa bisa tertidur pulas, tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun kerap kali melakukan hal tersebut.

 

Namun, ternyata kebiasaan menggunakan kipas angin saat tidur, memiliki dampak kurang baik bagi kesehantan Anda dan keluarga, terutama jika hembusan anginnya langsung menerpa tepat ke wajah, yang bisa membuat kesulitan bernafas.

 

Penjelasan

 

Sedikitnya jumlah oksigen dalam sel darah yang masuk ke dalam tubuh, akibat dari hembusan kipas angin yang langsung mengenai wajah, dapat memicu kesulitan bernafas. Selain itu, berbagai organ dalam tubuh pun tidak dapat bekerja maksimal.

 

Penggunaan kipas angin saat tidur pada kondisi kamar yang tidak berventilasi, serta sirkulasi yang tidak cukup, maka hembusan angin di dalam ruangan tersebut dapat menyebabkan seseorang lemas karena minimnya asupan oksigen yang dihirup tubuh, ditambah lagi apabila ada udara yang tidak segar terperangkap karena minimnya sirkulasi udara, bukan tidak mungkin seseorang akan mati lemas.  

 

Hal tersebut bisa dapat terjadi, sebab hasil hembusan angin dari kipas tersebut dapat membuat suhu tubuh menurun drastis. Perlu Anda ketahui, dengan hanya sekedar tidur biasa saja tanpa kipas angin, suhu tubuh seseorang akan menurun secara alami, begitupun dengan tekanan darah serta sistem pernafasan.

 

Tips

Meski sulit tertidur jika kondisi sedang panas, Anda perlu beradaptasi terhadap hal tersebut secara perlahan, dan usahakan agar kamar tidur Anda memiliki ventilasi yang cukup, sebab dengan begitu akan membuat kamar menjadi lebih sejuk serta kualitas sirkulasi udara pun baik untuk kesehatan Anda.

 

Selain itu, apabila masih tetap ingin menggunakan kipas angin atau AC saat tidur, coba nyalakan sekitar 15 hingga 30 menit saat mulai beranjak tidur, dan sebaiknya usahakan agar tidak menghadapkannya tepat ke arah tubuh, melainkan ke arah lain. Perhitungkan juga jarak kipas angin agar jangan terlalu dekat. Di samping itu, jika memungkinkan sebaiknya keadaan pintu kamar tidak ditutup, agar menghindari terperangkapnya karbondioksida di dalam ruangan.

 

 

Jadi, usahakan untuk mengurangi atau bahkan menghentikan kebiasaan buruk ini agar kesehatan Anda tetap terjaga dan kualitas hidup semakin baik.

 

2. Gelap atau Terang ?

 

Selain kipas angin, kondisi pencahayaan kamar saat tidur pun perlu diperhatikan, jika membiasakan tidur dengan lampu dipadamkan atau lampu redup, maka akan baik untuk perkembangan tubuh, terutama bagi anak-anak.

Namun, tidak sedikit orang yang memilih lampu tidak dimatikan saat tertidur, dengan alasan horor, tidak terbiasa, atau alasan lainnya. Padahal risiko kesehatan dapat mengintai Anda secara serius secara perlahan.

Berikut beberapa dampak negatif ketika menyalakan lampu saat tidur, berdasarkan sebuah hasil penelitian :

* Depresi Mental

Cahaya lampu yang terang ternyata dapat berpengaruh terhadap perbedaan struktur daerah otak (hippocampus), dan memungkinkan munculnya depresi dan kesehatan mental. Perlu Anda ketahui, hippocampus berperan penting memunculkan depresi dan perubahan perilaku yang signifikan. Bahkan cahaya redup sekalipun di malam hari sudah cukup mampu memicu.

Hal tersebut telah dibuktikan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat, terhadap hewan pengerat yang dipaparkan cahaya selama delapan jam hingga lebih saat tidur. Hasilnya, hamster mengalami gejala depresi lebih tinggi, jika dibandingkan dengan hamster yang terpapar cahaya lebih redup.

* Gangguan DNA

Tubuh dalam menghasilkan zat melatonin sebagai bentuk perlawanan terhadap tumor dengan menghentikan asam lemak serta bentuk pencegahan terhadap kerusakan DNA, diperlukan suasana cahaya tidur yang gelap.

Tidak hanya saat tidur, tubuh jika terpapar cahaya saat di toilet, bepergian melintasi lampu jalanan, atau di tempat lain yang bercahaya terang dengan durasi waktu yang lama, maka dapat menyebabkan berhentinya produksi zat melatonin tersebut.

Dikatakan oleh seorang peneliti dari Universitas Texas, Amerika, jika Anda tertidur dengan kondisi lampu tidak dimatikan meski selama 1 menit, otak akan segera mendeteksi bahwa lampu menyala seharian, sehingga produksi zat melatonin menurun.

Di London, Inggris melalui sebuah konferensi ditemukan bahwa seseorang dapat menderita tumor akibat lamanya terpapar cahaya lampu saat tidur di malam hari, dibandingkan bagi yang tidak pernah menggunakan lampu saat tidur.

*Risiko Diabetes

Oleh sebuah penelitian di Boston, diitemukan fakta baru bahwa tertidur dalam kondisi kamar tidur yang terang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hal tersebut diketahui dari hasil eksperimen terhadap 116 partisipan berusia antara 18-30 tahun, selama 5 hari berturut-turut.

Para partisipan tersebut dibagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok dengan kondisi tidur di ruangan bercahaya terang, dan kelompok dengan kondisi tidur di ruangan bercahaya lebih redup, masing-masing berdurasi tidur selama 8 jam.

Hasil dari pemeriksaan darahnya setiap 30 menit, menunjukkan penurunan sekitar 50 persen terhadap produksi hormon melatonin pada partisipan yang berada di ruangan terang. Hormon tersebut mengatur jam bioligis yang berhubungan dengan siklus antara tertidur dan terbangun.

Aktivitas melatonin yang berkurang, selain dapat memicu rasa kantuk, dapat pula memicu beberapa jenis penyakit serius, seperti meningkatkan risiko kanker serta dibetes tipe 2.

Tips

Jika Anda masih belum bisa langsung mematikan lampu saat tidur, coba dahulu secara perlahan dengan menggunakan lampu tidur berwarna suram, seperti biru tua atau merah, baru kemudian matikan total pencahayaan. Dengan demikian tidur Anda pun dijamin akan lebih nyenyak.

 

(afn/dbs)

.