Pengrajin Kue Lebaran Kebanjiran Pesanan

┬ętribunnews.com
ilustrasi

Transbogor.co- Perajin kue kering khas Lebaran terpaksa menaikkan harga jual kepada konsumen. Pasalnya, harga sejumlah bahan baku “nerekel” naik akibat kenaikan harga BBM sepanjang tahun ini, begitu pula upah pekerja yang terdampak.

“Harga gula dan terigu mending, cuma bahan baku cokelat dan keju naiknya sampai 10 persen. Belum lagi upah pekerja, makanya kami juga naikkan harga,” kata salah seorang perajin kue, Dewi Dida kepada “KP” di kediamannya, Perum Cisalak.

Meskipun begitu, pedagang musiman yang aktif selama lebih dari satu dekade itu mengaku masih kebanjiran pesanan. Bahkan pesanan 1.000 toples kue terpaksa ditolak karena tidak tertangani.

“Bahan juga lagi sulit, ini juga kita lagi kejar produksi 300 lusin toples,” ujar pemilik D and D Cookies ini.

Pesanan tersebut untuk memenuhi permintaan ke Jakarta, Bogor, Bekasi, Bandung, Purwakarta, Banjar, dan Pangandaran.

“Alhamdulillah tidak drop omset juga, walaupun naik sekira Rp5.000 per toples­nya,” katanya.

“Kami juga kewalahan permintaan yang mendadak-dadak tidak bisa dilayani. Mudah-mudahan saja target produksi bisa tercapai,” katanya menambahkan.

Kue-kue jenis nastar dan castengel, kata dia, memang varian yang paling umum dicari pembeli. Namun varian baru yakni coklat lilit mendominasi pesanan dari konsumen. “Dari 10 jenis, 40 persen pangsa pasar dari coklat lilit. Selebihnya dari varian yang umum,” ujarnya.

Sumber : okezone.com

.