Eks Dirut PT. BBJ dituntut 5 tahun penjara

©nur

Transbogor.co- Bekas Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (PT BBJ) dan Komisaris Utama PT Indokliring Internasional, Sherman Rana Krishna dituntut 5 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsidair 6 bulan kurungan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sherman dianggap telah terbukti dan meyakinkan telah menyuap bekas Kepala Badan Pengawa Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Syahrul Raja Sempurnajaya sebesar Rp 7 miliar untuk memuluskan proses perizinan usaha lembaga kliring berjangka PT Indokliring Internasional.

"Menuntut supaya Majelis Hakim pada Pengadilan Tipikor yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, menyatakan terdakwa Sherman Rana Krishna terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," ujar Jaksa KPK, Haerudin dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (29/7).

Menurut JPU KPK, duit suap bermula dari upaya PT BBJ ingin memiliki lembaga kliring berjangka sendiri dengan mendirikan PT Indokliring Internasional yang izin usahanya diurus oleh Bappebti. Pada pertengahan 2012, Syahrul meminta bagian saham sebanyak 10 persen atau senilai Rp 10 miliar dari modal awal lembaga kliring berjangka yang akan didirikan sebesar Rp 100 miliar.

Permintaan Syahrul pun disampaikan Kepala Biro Hukum Bappebti Alfons Samosir kepada Bihar Sakti Wibowo yang kemudian diteruskan informasinya kepada Sherman Rana Krishnayang kemudian dibahas dalam rapat dewan komisaris dengan direksi PT BBJ. Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan, pemberian uang pun disepakati dengan nilai Rp 7 miliar.

Sebelum memutuskan tuntutan, JPU KPK mempertimbangkan hal yang memberatkan dan meringankan. Untuk hal yang memberatkan perbuatan terdakwa dilakukan saat negara sedang giat-giatnya melakukan upaya pemberantasam korupsi. Kemudian terdakwa merupakan inisiator atau yang menyarankan Hasan Wijaya untuk menemui Syahrul Raja Sempurnajaya.

Selain itu, terdakwa juga merupakan inisator untuk mengembalikan uang sebesar Rp 7 miliar tersebut ke brankas PT Indokliring Internasional guna menutupi seolah-olah uang tersebut tidak keluar dari PT Indokliring Internasional sehinggga tidak ada pemberian uang terhadap Syahrul Raja Sempurnajaya.

"Tidak ada hal yang meringankan untuk diri terdakwa Sherman Rana," imbuhnya.

Sherman Rana Krishna disangkakan telah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dan diancam pada Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

 

Sumber : Merdeka.com

.