ASEAN Masih Hadapi Jalan Terjal di 2014

  Vikram Nehru, perwakilan Bakrie Center Foundation untuk kebijakan publik di Carnegie Endowment, Washington, Amerika Serikat. Foto : vivanews.com

Jakarta, Trans Bogor - Negara-negara di kawasan ASEAN memang telah memperlihatkan prestasi sosial ekonomi yang mengesankan selama ini. Dua ekonomi terbesar di dunia - Amerika Serikat dan China – telah mengenali potensi ekonomi dan peran strategis yang sangat besar dari kawasan Asia Tenggara. Kedua negara ini telah membuat wilayah Asia Tenggara menjadi elemen inti dalam kebijakan luar negeri dan dalam strategi regional dan global mereka.

“Namun ASEAN masih harus hati-hati dan menghadapi jalan berliku dan terjal jika ingin melanjutkan pembangunan sosial, ekonomi dan kelembagaan yang cepat selama ini”, ungkap Vikram Nehru, perwakilan Bakrie Center Foundation untuk kebijakan publik di Carnegie Endowment, Washington, Amerika Serikat saat menjelaskan rencana pelaksanaan diskusi video conference Bakrie Center Fondation (BCF), Rabu (22/1/2014).

Diskusi yang mengambil tema The Changing Strategic and Economic Landscape of Southeast Asia:  Issues and Challenges” akan berlangsung di @America Center di Pacific Place Mall dan melibatkan tiga pihak, Indonesia – Singapore dan Washington, Senin (27/1/2014) mendatang.

Beberapa tantangan ini berasal dari luar kawasan, seperti kerentanan terhadap ketidakstabilan ekonomi global, dan lebih baru-baru ini , pemulihan lemah dalam menghadapi krisis ekonomi global .

Menurut Vikram, keterbukaan Asia Tenggara untuk perdagangan dan arus keuangan telah menjadi unsur penting bagi keberhasilan pembangunan. Namun pada saat yang bersamaan juga telah menciptakan saluran perdagangan dan investasi yang segera mengirimkan ketidakstabilan global terhadap perekonomian domestik , dan bahkan memperkuat pengaruh tersebut .

Demikian pula potensi gesekan antara kebangkitan Cina sebagai kekuatan militer regional dan strategi rebalancing Amerika terhadap Asia bisa. 

"Jika dikelola dengan buruk akan mempengaruhi keamanan jangka panjang di Asia Tenggara dan stabilitas. Bukan kebetulan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan anggaran pertahanan di Asia Tenggara termasuk di antara yang tertinggi di dunia”, ujarnya lebih lanjut.

Di tingkat regional juga muncul kekhawatiran yang meningkat apakah lembaga-lembaga di Asia Tenggara cukup kuat untuk perkembangan tantangan di tahun 2014. Ini termasuk memastikan perdamaian, stabilitas dan perlindungan kepentingan vital di kawasan itu, termasuk kebebasan navigasi laut dan di udara.

Hal ini juga melibatkan agenda regional ambisius ASEAN mengelola perdagangan dan integrasi keuangan , risiko kesehatan trans - perbatasan , ancaman keamanan non - tradisional , dan kejadian cuaca ekstrem terkait perubahan iklim regional dan global.

Berbagai persoalan tersebut menghadirkan beragam pertanyaan yang menarik untuk dicermati. Bagaimana keamanan lingkungan eksternal di Asia Tenggara cenderung berkembang .Apa yang akan menjadi peran China dan Amerika Serikat. Apa dampak ini terhadap dinamika di Asia Tenggara .Bagaimana Asia Tenggara dapat menjawab tantangan ini.

Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara , apa yang bisa Indonesia lakukan untuk mempercepat kesiapan Asia Tenggara untuk memenuhi tantangan ini. Bagaimana prospek untuk kerjasama keamanan dalam ASEAN dan antara ASEAN dan mitra strategis global. Apa saja tantangan ekonomi utama yang dihadapi kawasan Asia Tenggara. Yang risiko ekonomi yang lebih penting - internal atau eksternal.

Sampai sejauh mana Myanmar mempengaruhi perekonomian daerah. Dapatkah arsitektur institusional di kawasan ini memenuhi agenda regional ambisius ASEAN ekonomi , termasuk membangun komunitas ekonomi ASEAN pada akhir tahun 2015.

Indonesia Harus Memainkan Peranan

Sementara itu Imbang J. Mangkuto, Chief Executive Officer Bakrie Center Foundation (BCF) menjelaskan kompleksitas persoalan yang dihadapi ASEAN menjadi faktor menarik yang mendorong BCF untuk mengagas diskusi tiga pihak ini.

“Indonesia sebagai negara terbesar dan punya pengaruh besar di kawasan ASEAN harus memainkan peran penting, bukan saja dalam mengelola kompleksitas isu tapi juga mengarahkan berbagai kepentingan di antara negara-negara ASEAN agar kinerja positif selama ini dapat terus terjaga”, ujarnya.

Diskusi video conference tersebut rencananya akan menghadirkan panelist dari tiga negara. Dari Indonesia akan tampil Dewi Fortuna Anwar, Research Professor and Deputy Chairman for Social Sciences and Humanities at The Indonesian Institute of Sciences (LIPI) dan juga Director for Program and Research at The Habibie Center.

Selain itu ada pula Sjamsu Rahardja, pengamat ekonomi untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik dari World Bank. Dia juga pernah menjadi visiting fellow di The Peterson Institute for International Economics.

Sementara itu dari Carnegie Endowment, Washington selain Vikram Nehru akan bicara pula Douglas H. Paal, vice president for studies at the Carnegie Endowment for International Peace.

Panelist dari Singapore akan bicara Leonard C. Sebastian, Associate Professor dari Nanyang Technological University Singapore dan Dr. Mohd Nawab Mohd Osman yang kini menjabat Associate Reserach Fellow di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University Singapore. (adh/REL))

.