Meski pun Berbahaya, PKL Tetap Buka Lapak di Pinggir Rel

©Transbogor.co/Azis Maulana
Pedagang Kaki Lima berjualan di pinggir rel Stasiun Nambo.

Transbogor.co- Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL)  di pinggir rel kereta api di Kampung Gunung Putri Selatan, Desa Gunung Putri Kecamatan Bogor,  sudah sangat mengganggu dan membahayakan.  Baik  untuk penjual maupun pembeli karena lapak jualan berada persis di pinggir rel kereta api.

Para PKL yang berjualan setiap hari hari Jum'at, seakan tidak memperdulikan akan bahaya yang sewaktu waktu mengintai mereka. Padahal pinggiran rel kereta yang mereka tempati untuk berjualan masih aktif dilalui kereta api dari pagi hingga sore hari.

Menurut warga, Yanti (30)  keberadaan PKL di pinggiran rel kereta sudah lama, dan mereka berjualan setiap hari jum'at saja karena pembeli yang kebanyakan dari jamaah masjid Assalam yang berada di kawasan Indocement tak jauh dari rel kereta api tempat mereka berjualan.

"Awalnya para penjual berjualan di areal Mesjid Assalam, karena sudah tidak di perbolehkan lagi mereka pindah ke pinggiran rel kereta api",kata dia

Masih kata Yanti, sejauh ini memang belum ada  kecelakaan tertabrak kereta baik pembeli maupun penjualnya. “Belum ada sih beritanya,” ujarnya.

Sedangkan menurut salah satu penjual ikan hias, Jumanan (40), mereka berjualan disini lantaran konon sudah mendapatkan izin dari pihak terkait  dan dari paguyuban pedagang yang ada.

"Kami berjualan disini karena omset yang lumayan di bandingkan berjualan di tempat lain, sedangkan kecelakaan tertabrak kereta belum pernah ada karena kami sudah mengetahui jadwal keberangkatan kereta api,”ujarnya.

Kereta biasanya berangkat empat kali dalam satu hari.  Ada 8 kali kereta lewat, keberangkatan dan tiba kembali ke stasiun Nambo.  Kereta api berangkat  mulai dari  pukul 07:00, 09:00, 13:00 dan jam 16:00. Kereta datang setengah jam sebelum jadwal keberangkatan dari stasiun Nambo.

Reporter :  Azis Maulana

Editor : Dimas Fery

.