Partai Politik Dianggap Gagal Mencetak Kader Potensial di Daerah

©net

Transbogor.co- Perpanjangan waktu pendaftaran calon untuk Pilkada serentak bukannya dimanfaatkan partai politik malah ada yang mengundurkan diri. Meski hanya 7 dari 269 wilayah peserta Pilkada serentak yang terancam tertunda, tetapi partai politik dianggap gagal mencetak kader untuk berlaga di kontestasi politik daerah.

Parpol cenderung pesimistis menghadapi kontestasi politik secara serentak yang tentunya harus melakukan kampanye secara bersamaan pula. Padahal bila mampu mencetak kader yang dekat dengan rakyat maka tak perlu mengeluarkan biaya besar untuk kampanye.

"Parpol gagal cetak kader bagus dan dekat dengan rakyat, sehingga ketergantungan dengan kampanye dadakan berbiaya tinggi sangat besar," kata pengamat politik Paramadina Hendri Satrio

Hendri juga heran dengan pola pikir partai politik yang seakan menggunakan logika hitung-hitungan ekonomi. Padahal mereka selalu bicara yang mengatasnamakan rakyat serta bersedia melakukan apa pun demi masyarakat dan demokrasi.

"Bila cara ini yang dilakukan, demokrasi jadi seperti bisnis yang memperhitungkan profit and loss. Seakan-akan kalau kelihatannya akan kalah dan kehilangan uang banyak, mereka memilih tidak ikut Pilkada," ungkap Hendri.

Sekjen Nasdem Patrice Rio Capella kemudian memberikan pandangan berbeda. Rio menjelaskan bahwa banyak parpol yang tak fokus untuk satu daerah tertentu.

"Belum tentu satu parpol punya satu kader di wilayah tertentu. Tetapi seharusnya partai bisa mencari mitra koalisi yang pas. Selain itu bisa juga partai politik merekrut tokoh non-parpol yang kompeten untuk dicalonkan," kata Rio.

Dia kemudian mencontohkan partainya yang banyak berkoalisi dengan PDIP. Di antara calon tunggal yang masih ada hingga saat ini pun juga terdapat Nasdem sebagai partai pengusung.

"Selain itu juga masih ada aturan-aturan seperti batas minimal perolehan kursi untuk mendaftarkan calon. Bisa saja partai itu punya kader kompeten, tetapi memang dia belum cukup untuk memenuhi ambang batas minimal. Terlebih lagi ketika si calon tunggal itu diusung oleh koalisi raksasa sehingga parpol lain tak bisa mengusung calon," tutur Rio.

 

Sumber : Detik.com

.