Bahaya Tatto, Pakar Kesehatan Efek Jangka Panjang Tinta Tatto Dipertanyakan

©net

Transbogor.co-Tato sebagai bentuk ekspresi seni ternyata menyimpan masalah kesehatan yang belum terdeteksi. Selain memiliki risiko infeksi, gatal-gatal, hingga alergi, pakar mengatakan masih banyak pertanyaan seputar risiko jangka panjang hidup dengan tinta di bawah kulit.

Dr Andreas Luch, peneliti senior dari Institut Federal Jerman di Berlin menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menyatakan bahwa tinta yang digunakan untuk menato bersifat aman ketika diinjeksikan ke lapisan kulit.

Dari laporan Dr Luch, disebutkan bahwa satu hingga lima persen orang yang memiliki tato menderita infeksi karena aktivitas bakteri yang terkandung baik pada tinta maupun pada jarum. Efeknya dapat berupa nyeri, perdarahan, infeksi, serta reaksi alergi.

Hal-hal tersebut hanyalah efek samping dalam jangka pendek. Tapi risiko jangka panjang, seperti toksisitas organ atau kanker, masih belum bisa diketahui. Apalagi di beberapa negara, tinta tato dianggap sebagai bahan kosmetik. Oleh karena itu, penelitian mengenai kandungan racun di dalamnya tidak dapat dilakukan kepada hewan.

Dr Luch berpendapat bahwa tinta tato seharusnya bukan dianggap sebagai bahan kosmetik. Pertimbangan adalah bahwa kosmetik biasanya diaplikasikan ke tubuh bagian luar. Sementara tinta tato malah disuntikkan ke lapisan kulit yang masih hidup dan berkembang, di mana di dalamnya terdapat pembuluh darah, saraf, dan sel-sel kekebalan tubuh.

"Dalam jangka panjang, kita belum bisa mengetahui apa yang akan terjadi dengan tinta ini, apakah akan menumpuk di organ dalam, atau mampu diekskresikan oleh tubuh," kata Dr Luch seperti dikutip dari Reuters Health, Selasa (11/8/2015).

Selain itu, tidak ada standar industri untuk bahan tinta, industri tinta tato juga masih dalam pengawasan minimal. Permasalahan yang disebabkan tinta tato pun hanya diketahui berdasarkan pelaporan orang yang sudah terkena efeknya.

"Kita perlu memikirkan bahwa semua bahan yang terkandung di dalam tinta tato, termasuk pengawet, bahan pembantu saat diproduksi oleh pabrik, atau apa pun itu, akan terus berada di dalam tubuh dari waktu ke waktu. Dikategorikan sebagai kosmetik saja tidak cukup," kata Dr Luch menegaskan.

Peraturan tentang tato dan mengenai seniman tato memang masih sangat minim. Ironisnya, saat ini tato telah menjadi tren modern, dengan sekitar 120 juta orang di belahan bumi barat memiliki setidaknya satu tato, namun biasanya tidak ada yang membicarakan efek samping dari tinta tato, tambah Dr Luch.

Tinta tato modern kebanyakan mengandung pigmen organik, tetapi juga dapat mencakup bahan pengawet dan zat lainnya seperti nikel, arsenik, dan timah. Dalam satu penelitian di Swiss, pengawet dilarang untuk digunakan dalam kosmetik. Namun pengawet tetap ditemukan di 14 persen sampel tinta tato di negara tersebut.

Dari penelitian sebelumnya, tinta tato berwarna umumnya lebih cepat dan banyak menimbulkan reaksi dibanding tinta tato hitam atau putih.

Dr Luch juga pernah meneliti sejumlah tubuh jenazah yang memiliki tato selama puluhan tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa sampai 90 persen dari tinta tato telah menghilang dari kulit, namun tidak diketahui kemana perginya, ungkap Dr Luch.

"Hal ini bukan ditujukan agar orang berhenti menato. Tetapi, saya pikir orang harus lebih cerdas dalam memilih dan menanggulangi efek dari tato. Mereka bisa melakukan penelitian kecil-kceilan, menanyakan tentang permasalah akibat tinta tato yang terjadi baru-baru ini, mengikuti petunjuk perawatan tato, serta melaporkan langsung pada seniman tato dan dokter jika terjadi masalah pada bagian kulit yang ditato," ujar Dr Michi Shinohara, dermatologis di University of Washington, AS.

 

Sumber : Detik.com

.