Bagaimana Sikap Masyarakat Terhadap Reshuffle Kabinet, Survey Membuktikan (1)

©skalanews.com
Ilustrasi.

Transbogor.co- Pelantikan enam menteri baru di Kabinet Kerja oleh Presiden Joko Widodo kemarin (12/8) lalu menjadi sorotan semua media. Berdasarkan hasil kajian Indonesia Indicator (I2) sejak 1 Januari hingga 12 Agustus 2015, sebanyak 343 media di seluruh Indonesia, baik nasional maupun lokal, memberitakan soal kebutuhan adanya reshuffle kabinet.

"Situasi tersebut dipicu oleh adanya dua hasil survei yang menunjukkan ketidakpuasan publik pada kinerja kabinet. Kekecewaan pada kabinet tersebut terjadi karena naiknya harga beras, nilai tukar rupiah yang anjlok, dan isu kenaikan uang muka mobil pejabat," ujar Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2) Rustika Herlambang, saat menyampaikan hasil kajian media bertajuk "Respons Publik Terhadap Reshuffle Kabinet."

Menurut dia, puncak tren pemberitaan reshuffle terjadi pada Mei. Namun kemudian turun sepanjang tiga bulan terakhir.

"Di saat tren yang menurun tersebut, Presiden Jokowi justru secara mengejutkan melakukan reshuffle," ungkap Rustika.

Dalam pantauan media, kata Rustija, publik cukup terkejut dengan keputusan Jokowi yang secara mendadak mengganti enam menteri di kabinetnya.

Keputusan Jokowi itu, lanjut Rustika, menjadi perbincangan hangat sepanjang Rabu (12/8). Dalam sehari pemberitaan di media online mencapai 792 berita dari 82 media nasional di Indonesia.

Rustika menambahkan, pada saat tekanan publik menguat untuk melakukan reshuffle, Presiden Jokowi berusaha tidak terprovokasi oleh tekanan publik.

Namun, tutur Rustika, ketika tekanan itu semakin melemah, Presiden Jokowi mengambil keputusan penting. "Apakah hal ini merupakan strategi Presiden Jokowi untuk menunjukkan independensi keputusan politiknya?" cetus Rustika.

Sumber : jpnn.com

.