Rupiah Anjlok Bisa Ancam Perekonomian RI

┬ębisnis.com
Ilustrasi.

Transbogor.co- Nilai tukar Garuda selangkah lagi menembus level Rp14.000 per USD. Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Ecky Awal Muharram menilai jika tak dijaga dan terjun bebas, kondisi ini akan mengancam ekonomi RI.

Menurut Ecky, melihat pada fiskal jelas terlihat dari cicilan utang luar negeri yang meningkat. Kendati memang cicilan utang luar negeri bisa ditutupi dari utang luar negeri yang baru. Namun, itu berarti utang luar negeri Indonesia bisa dibilang tidak memperkuat struktur kekuatan cadangan devisa. Tercatat cadangan devisa terakhir menurun menjadi USD107,6 miliar.

"Jatuh temponya utang luar negeri pihak swasta maupun pemerintah yang dapat memperparah atau menekan rupiah," kata Ecky pada Metrotvnews.com, Jakarta, Sabtu (22/8/2015).

Bahkan, sambung dia, beberapa perusahaan sudah mengalami gagal bayar utang (default). Dia berharap semoga tidak sampai mengancam industri perbankan Indonesia. Karena, jika rupiah melorot lebih jauh, maka beberapa bank kecil yang akan terkena lampu merah.

"Apabila dolar mencapai batas psikologis Rp15.000 per USD, maka beberapa bank kecil akan bermasalah," sebut Ecky.

Selain itu, dampak terbesar yang dirasakan yakni oleh industri yang berbahan baku impor, khususnya manufaktur. Tragisnya sektor pangan pun sangat tergantung pada barang impor. Artinya, akan terjadi kenaikan harga sehingga menyebabkan inflasi dan akibatnya menguras daya beli masyarakat.

Akibatnya, banyak industri yang sudah mengurangi produksinya. Bahkan, beberapa perusahaan sudah menyatakan alami kerugian. Jika demikian, dampaknya akan menyeret pada pemutusan hak kerja (PHK) terhadap para pekerja Indonesia.

"Sebagian bahkan menghentikan produksi yang berakibat PHK di mana-mana. Diperkirakan tahun ini akan terjadi PHK hingga puluhan ribu orang," ujarnya.

Jika demikian, tak dapat dipungkiri, penurunan aktivitas ekonomi dan kondisi perlambatan pertumbuhan pada akhirnya akan mengancam keamanan fiskal Indonesia. "Bila perlambatan ekonomi terus berlangsung, maka realisasi penerimaan pajak akan jauh dari target," tuturnya.

Lagipula, Indonesia tidak mendapat nilai tambah dengan merajalelanya dolar di saat harga komoditas andalan ekspor pun tengah anjlok. Daya saing negara pun justru turun akibat melemahnya rupiah.

Oleh karena itu, dirinya mengharapkan agar Pemerintah dan otoritas moneter harus bekerja kerja keras menjaga nilai tukar rupiah jangan sampai anjlok pada batas psikologisnya, serta menjaga agar pertumbuhan ekonomi tak jatuh lebih dalam.

"Sebenarnya kenaikan belanja pegawai atau belanja rutin berupa barang dan jasa yang tidak mendesak dan tak penting sebaiknya dicegah. Maka peran Bappenas dan Menkeu sangat penting. Output dan outcome belanja pemerintah harus terukur dan mampu mendorong pertumbuhan," pungkasnya.

Sumber : metrotvnews.com

.