Pengungsi Sukamakmur Bogor Mulai Depresi

  Bupati Bogor Rachmat Yassin berbincang-bincang dengan warga korban tanah longsor di Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur Senin (3/2). Warga mulai mengalami depresi dan membutuhkan terapi dokter. foto: diskominfo

Bogor, Trans Bogor - Sejumlah warga Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang menjadi pengungsi longsor dan pergeseran tanah mulai mengeluhkan kesehatannya, bahkan beberapa ada yang mengalami hipertensi hingga depresi.

Pantauan di Posko Kesehatan longsor dan pergerakan tanah di Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Senin malam (3/2), sebanyak 16 warga datang memeriksakan dirinya.

Warga yang datang ke posko kesehatan mengeluhkan kondisi kesehatannya, beberapa orang ada yang mengeluh demam, flu, diare dan tiga di antaranya mengalami gangguan hipertensi.

"Ada tiga warga salah satunya manula hari ini berobat dan dia mengalami hipertensi. Saat ditanya apa punya gejala darah tinggi sebelumnya, pasien tersebut bilang tidak. Hanya sejak di pengungsian merasakan keluhan tersebut," ujar dr Yulia Erma, petugas Puskesmas Sukamakmur yang bertugas di posko kesehatan.

Sebelumnya lanjut dr Yulia, salah satu warga yang datang berobat mengalami depresi karena memikirkan kondisi rumahnya dan tempat tinggalnya. Sehingga tim medis memberikan motivasi agar warga tersebut kembali tenang dan bisa menerima situasi.

Menurut dr Yulia, kondisi tinggal menumpang di rumah orang lain karena bencana longsor yang merusak rumah sebagian warga menjadi pemikiran yang berpengaruh pada kesehatan pikiran warga.

"Ya tentu saja ini menjadi pemikiran, karena rumah rusak dan tidak bisa ditempati lagi. Sekarang sudah seminggu tinggal mengungsi di rumah-rumah warga," ujar Yulia.

Yulia mengatakan, mendapatkan pelayanan kesehatan, warga juga mendapat pendampingan pasca bencana baik dari tenaga relawan maupun tim kesehatan.

Hampir sepekan lebih warga Kampung Gombong, mengungsi karena kampung mereka dilanda longsor dan pergeseran tanah yang hampir setiap hari terjadi. Selain merusak rumah, sekolah dan tempat ibadah, juga merusak akses jalan sepanjang 400 meter sehingga akses warga antara kampung terputus.

Sebanyak 66 rumah rusak berat hingga tidak bisa ditempati, 65 rusak sedang, dan 29 terancam. Total ada 138 bangunan dengan jumlah kepala keluarga yang mengungsi 160 atau 591 jiwa.

Warga mengungsi di rumah-rumah sanak saudara dan fasilitas umum yang tersebar di delapan kampung di Desa Cibadak.

Mak Rum (52) salah satu warga yang mengungsi mengharapkan pemerintah segera membangunkan rumah untuk mereka tinggal dan bisa beraktivitas seperti biasa.

"Kami kebingungan tinggal numpang di rumah orang lain beda rasanya tinggal di rumah sendiri," ujarnya. (adh/ant)
.