Demo Buruh Ditunggangi Aktor Politik?

©buruh.com
DEMO: JHari ini, massa buruh dari sejumlah elemen akan menggelar aksi di sejumlah titik di Jakarta.

Tranbogor.co- Ketua Umum Aliansi Masyarakat Indonesia Hebat (Almisbat) Teddy Wibisana mengendus demo buruh ditunggangi pihak ketiga. Ditemui di rumahnya di Danau Bogor Raya, Kota Bogor, Selasa (1/9/2015), mantan aktivis mahasiswa era 80 yang juga relawan pendukung Jokowi ini menduga ada aktor intelektual dibalik gerakan aksi massa buruh akan digelar hari ini.

“Kalau pun yang jadi tuntutan soal menguatnya dolar terhadap rupiah, itu bukan ranah serikat pekerja. Dan, lazimnya Hari Buruh itu digelar tanggal 1 Mei yang secara umum diperingati diseluruh dunia. Saya kira sangat tidak ada relevansi bila ada gerakan buruh berkaitan dengan kondisi krisis,” tukasnya.      

Lebih lanjut ia menambahkan, yang menjadi domain serikat pekerja itu adalah jika tuntutannya berkaitan dengan Upah Minimum Pekerja (UMP) atau hak pekerja.

“Jika kaitannya dengan soal pemerintahan, saya kira itu sudah masuk ranah politis,” ucap Teddy..

Pernyataan senada juga adisampaikan Ketua Forum Peduli Bogor, Sanda Aprili. Saat dihubungi melalui telepon, secara gamblang ia menyebut gerakan buruh diboncengi kepentingan politik.

“Saya mencium ada mesin politik yang ikut campur memanas-manasi suasana. Apa kaitannya krisis ekonomi dengan buruh? Seharusnya, kekuatan politik yang kalah pemilu harus lebih beretika dalam politik jangan membuat hiruk pikuk yang tidak jelas dengan memanfaatkan aksi buruh,” tandasnya tanpa mau menyebutkan siapa aktor politik yang jadi dalangnya.

Terpisah,  Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal memebenarkan demo buruh ini bukan dalam rangka memperingati May Day atau Hari Buruh Internasional.

"Kami ingin menyampaikan tuntutan yang sangat mendesak, tidak perlu menunggu 1 Mei," kata Said Iqbal.

Semantara, Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia Timboel Siregar menambahkan, pemutusan hubungan kerja yang dilakukan beberapa perusahaan menjadi salah satu pemicu federasi buruh berkonsolidasi.

"Para pengusaha beralasan melemahnya rupiah dan melambatnya laju ekonomi membuat keuangan perusahaan memburuk," kata Timboel. Ia berharap dengan berunjuk rasa, pemerintah bersedia memberikan insentif bagi pengusaha selama mengalami krisis. (ko/eko)

.