Inflasi Agustus Terjun Bebas Sejak 2007

©lip6.com
ilustrasi

Transbogor.co- Inflasi Agustus 2015 sebesar 0,39 persen merupakan yang terendah sejak 2007. Bukan karena daya beli masyarakat yang menjadi penyebabnya. Namun, terjadinya penurunan harga dari beberapa komponen meski terjadi penguatan dolar AS yang menjadi pemicu memukul impor bahan baku makanan. Demikian dinyatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin.

Inflasi Agustus rendah karena terjadi deflasi pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,58 persen serta dari produk pertanian paska Lebaran.

"Saya tidak menduga itu bukan karena penurunan daya beli. Buktinya yang naik pesawat terbang saja mencapai 6,4 juta orang atau yang tertinggi sejak Januari 2010. Jadi bukan karena daya beli merosot," kata dia di Jakarta, baru-baru ini.

Suryamin menuturkan, inflasi tercatat 0,39 persen pada Agustus 2015 itu disumbangkan dari inflasi kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 1,72 persen, bahan makanan sebesar 0,91 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,71 persen, dan komponen kesehatan 0,70 persen. Sedangkan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan minus 0,58 persen.

"Ada penurunan tarif angkutan udara, darat, laut, serta kereta api. Tadinya ada kenaikan tarif saat Lebaran karena ada arus mudik dan balik," lanjut Suryamin.

 

Berikut penyumbang deflasi atau penahan laju inflasi:

 

  1. Bawang merah yang mengalami penurunan harga 15,92 persen dengan andil deflasi 0,08 persen. Terjadi penurunan harga di 77 kota IHK, tertinggi deflasi di Banyuwangi 36 persen, Tanjung Pandan 32 persen.
  2. Tarif angkutan udara paska arus mudik dan balik mengalami penurunan 4,7 persen dengan andil deflasi 0,07 persen. Terjadi penurunan tarif di 37 kota IHK, tertinggi di Singkawang dan Pontianak dengan masing-masing penurunan harga 44 persen dan Manado 30 persen.
  3. Tarif antar kota yang merosot 6,08 persen dengan andil deflasi 0,05 persen. Sebanyak 40 kota IHK mengalami penurunan tarif, tertinggi di Purwokerto 26 persen, Cirebon dan Jember masing-masing 22 persen.
  4. Tomat sayur turun harga 8,04 persen dengan andil deflasi 0,02 persen karena pasokan melimpah di awal musim panas. Sebanyak 52 kota IHK mengalami penurunan harga, tertinggi di Manado 41 persen dan Gorontalo 37 persen.
  5. Emas perhiasan turun harga 1,1 persen, dan andil deflasi 0,01 persen karena mengikuti pergerakan harga internasional. Sebanyak 61 kota IHK mengalami penurunan harga, tertinggi di Tanjung Pandan 4 persen serta Singkawang, Probolinggo, Warambone, Padang dan Semarang 3 persen.
  6. Tarif kereta api dengan penurunan 5,64 persen dan andil deflasi 0,01 persen paska Lebaran. Sebanyak 19 kota mengalami deflasi, tertinggi di Cirebon dan Semarang masing-masing 25 persen. (lip/ek)
.