Situ dan Embung Lenyap, Banjir Pun Kalap

  foto:Dok

Bogor, Trans Bogor
Pembangunan waduk/situ/penampungan air serta sodetan Ciliwung dinilai peneliti dari Badan Informasi Geospasial akan efektif menanggulangi banjir. Sementara, pemasangan biopori, memang akan lebih efektif jika dilakukan di daerah resapan karena kondisi Jakarta tidak memungkinkan untuk pemasangan biopori secara optimal.

Hal ini disampaikan Deputi Informasi Geospasial Tematik (IGT) Badan Informasi Geospasial (BIG),  Nurwadjedi, yang baru saja selesai melakukan ekspedisi geografi Indonesia, terutama di wilayah DAS Ciliwung, Jumat (24/1). Berdasarkan hasil ekspedisi yang dilakukan tahun 2013 bersama timnya, Nur menemukan ada 204 situ dan embung yang ada di Jabodetabek.

Namun sayangnya, sebagian besar mengalami kerusakan, alih fungsi lahan, serta menyusut. Padahal, satu situ  seharusnya berdaya tampung 16,3 juta meter kubik air, hingga dapat mengatasi luapan banjir. Akibat lenyapnya begitu banyak "terminal" air ini, daya tampung air yang melimpah menjadi melebar bak air bah ke segala arah, khususnya wilayah ibukota Jakarta.

"Tidak heran jika kemudian, banjir di Jakarta semakin parah karena air yang seharusnya tertampung di situ mengalir langsung ke Jakarta," papar Nur.

Di Kabupaten Bogor, ada sekitar 99 buah situ yang luasannya 500,27 hektar di tahun 1990. Namun, jumlahnya menyusut menjadi 437,35 ha di tahun 2000 dan 438,66 hektar di tahun 2010. "Keberadaan situ dan embung sangat penting sebagai penampung air. Oleh karena itu, pembangunan waduk di daerah Ciawi dan Sukamahi saya pikir bisa mengatasi sedikit-sedikit banjir di Jakarta," ujar Nur.

Meski demikian, langkah ini harus didukung oleh optimalisasi waduk yang sudah ada di wilayah Bogor dan sekitarnya. Dengan demikian, daerah penyimpangan air semakin banyak, meski skalanya tidak sebesar waduk-waduk raksasa.

Sodetan Ciliwung yang ditolak oleh Pemkot dan Pemkab Tangerang juga dikatakan Nur sebagai solusi yang cukup baik. Dia menjamin hal ini bukan sekadar memindahkan banjir ke Tangerang. "Apalagi kan, ada pengaturan berapa yang dilimpaskan ke Cisadane," ujar Nur.

Nur juga mencermati perlu adanya sistem peringatan dini banjir bagi wilayah Bekasi. Dengan demikian, warga Bekasi tidak protes karena tiba-tiba banjir padahal di Bekasi tidak hujan.

Menurut Nur, seharusnya posisi sistem peringatan banjir seperti Katulampa ada di wilayah Sentul. Namun, saat ini wilayah ini sudah berubah menjadi permukiman elit sehingga sistem peringatan dini hilang atau tidak terpikirkan.

Nur juga menilai pembongkaran vila hanyalah hal kecil yang pengaruhnya pada air limpasan ke Jakarta juga kecil. Sebelum kawasan itu dibuat sumur resapan, biopori dan upaya konservasi lainnya, maka air hujan akan tetap mengalir ke Jakarta tanpa terkendali.

BIG sendiri bertugas membuat peta dasar yang kemudian bisa diterjemahkan dalam sejumlah peta tematik tergantung kebutuhan. Diakui Nur, jumlah peneliti yang mampu membuat peta tematik sangat terbatas sehingga dalam setahun, hanya sekitar 15 peta potensi bencana yang bisa dihasilkan. Saat ini, sudah ada sekitar 100 peta tematik yang bisa dihasilkan. "SDM kita sangat kurang," tambahnya. (wid/den)

.