Indonesia Belum Krisis, Tapi sudah Kritis

©viv
ilustrasi

Transbogor.co- Ekonom dari Universitas Gajah Mada (UGM) menolak sebutan Indonesia saat ini dalam situasi krisis. Menurutnya, anggapan itu tidak benar karena kondisi perekonomian Indonesia saat ini tidak dalam fase yang mengkhawatirkan.

"Menurut saya enggak. Segala hormat saya bagi semua yang mengatakan krisis yak kok rasanya nggak krisis ya. Ya kalo bicara potensi krisis selalu ada ya," ujar

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono di Kompleks Bank Indonesia, baru-basru ini.

Indikator perekonomian Indonesia saat ini yakni pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan cadangan devisa, lanjutnya, belum menunjukkan tanda bahwa Indonesia masuk dalam kondisi krisis maupun krisis.

"Cuma kalau melihat indikator sekarang, kayaknya enggak ya, masih belum. Perlambatan yang cukup lumayan iya tetapi ini kan imbas dari ekonomi China," katanya.

Walaupun kondisi ekonomi Indonesia masih terbilang aman, namun perlu kewaspadaan karena nilai tukar rupiah saat ini mencapai Rp14.000 per dolar AS.

"Tapi tidak berarti kita tidak waspada ya, karena bagaimanapun kurs Rp14.000 itu membuat orang takut. Apapun alasannya itu enggak bener, kurs Rp14.000 itu harus dikembalikan ke level yang masuk akal," ucap Tony.

Menurutnya, level nilai tukar rupiah yang fundamental saat ini seharusnya berada dikisaran rentang Rp12.500 hingga Rp13.000 per dolar AS.

“Tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini dikarenakan kecemasan berlebihan yang berdampak pada kepemilikan mata uang dolar,” tuturnya,

Pada bagian lain, Direktur Eksekutif Institute National Development and Financial (Indef), Enny Sri Hartati berpendapat berbeda. Disebutnya, Indonesia memang belum berada dalam kondisi krisis. Tapi, posisinya sudah memasuki tahap kritis.

"Kalau tidak segera direspon, ya tinggal nunggu masa kritis saja," kata Enny Sri Hartati dalam diskusi memitigasi potensi krisis ekonomi di Indef, Jakarta.

Ia menjelaskan, hal tersebut berdasarkan dari indikator pada bulan Agustus 2015 yang menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan.

Kemudian mulai terjadi aliran modal keluar atau capital flight. Selanjutnya, harga kebutuhan pokok masih mengalami peningkatan, inflasi bahan makanan bulan Agustus masih mencapai 0,91 persen (month to month/mtm) atau 9,26 persen (year on year/yoy).

Selain itu, buruh juga melakukan demonstrasi serta data federasi serikat pekerja mengenai adanya pemutusan hubungan kerja (PHK).  Sementara itu, pemerintah menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih dalam kondisi fundamental yang kuat serta stabil.

"Krisis ekonomi di Malaysia telah menjalar pada krisis politik, ini harus segera direspon, jangan hanya memberi ketenangan saja," kata Eny.

Eny mengkhawatirkan, Indonesia akan kembali terjebak pada krisis ekonomi seperti pada tahun 1998. karena kemungkinan itu bukan merupakan hal yang mustahil. (ko/de/ek)

.